3 September 2016

Berhenti Overthinking, Please!


Aku termasuk orang yang suka berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu, atau dalam bahasa inggris disebut Overthinker. Biasanya saat aku ingin menulis, aku akan menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan jenis tulisan apa yang akan aku tulis nanti, alhasil sebelum tulisan tersebut terealisasi dan terpublikasi, aku sudah merasa lelah dan stress duluan. Untunglah kali ini aku mendapat ide untuk menulis tentang overthinking. Tulisan ini aku ketik tanpa melalui proses berpikir panjang secara mendalam, karena idenya pun muncul saat aku sudah muak dengan diri yang terlalu lama larut dalam pemikiran yang entah apa.

Setelah dipikir-pikir, berpikir itu memang penting tapi terlalu lama berpikir nyatanya merugikan diri sendiri, apalagi bila yang dipikirkan cenderung lebih ke sisi negatif. Sampai pada paragraf kedua ini, aku menyadari bahwa yang aku pikirkan sejak kemarin ternyata sia-sia karena tidak ada aksi nyata samasekali, aku yang awalnya optimis ingin konsisten menulis pun berubah menjadi pesimis karena lebih banyak memikirkan resiko, ada rasa ragu dan khawatir akan menghasilkan tulisan yang tidak layak dibaca, jelek, dan lain sebagainya, and I guess it is called Anxiety.  Padahal niatku menulis sejak awal adalah untuk berbagi cerita, pengalaman, dll. Bukan untuk menuai pujian atau semacamnya.  Bukan.

Kebiasaanku yang berpikir panjang tidak hanya berlaku dalam dunia tulis-menulis tapi juga dalam segala hal, terutama cinta. Uhuk. Sampai sekarang aku masih susah move on karena terlalu lama memikirkan semua yang sudah berlalu, padahal hal tersebut sebenarnya sudah tidak layak lagi dipikirkan, cukup dijadikan pelajaran untuk kedepannya, iyakan? Life goes on!

Adakah yang memiliki kebiasaan yang sama? Kalau ada, beberapa akibat dari overthinking di bawah ini pasti pernah kamu rasakan juga.

1. Merasa kurang Bahagia

“Overthinking kills happiness” 

Ada banyak alasan kenapa aku mengatakan seorang overthinker merupakan orang yang kurang bahagia, alasan pertama adalah karena aku sudah mengalaminya. Orang yang terlalu banyak berpikir cenderung menghabiskan waktu untuk menerka-nerka resiko dari rencana dan tindakan yang akan diperbuat sehingga tidak sempat menikmati suasana sekitar karena larut dalam hingar-bingar pemikiran sendiri, mereka sering terlihat murung dan melamun disaat orang lain sedang asik menikmati hal-hal menakjubkan. They lose touch with the reality!

Resiko-resiko itu membuat mereka sering berpikir negatif terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti, sehingga muncul perasaan cemas dan kurang bahagia dalam diri, padahal sesungguhnya perasaan bahagia hanya datang dari hal-hal positif, terkecuali positif hamil di luar nikah. Naudzubillah min dzalik.

2. Kurang Produktif

“Overthinking has power to destroy your creativity" 

Seperti yang sudah aku katakan di awal paragraf, sebelum melakukan segala sesuatu, aku selalu memikirkan resiko-resikonya, akan tetapi aku terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berpikir dan lamban dalam bertindak, sehingga tak jarang aku sudah merasa lelah dan stress lebih dulu sebelum memulai aksi, alhasil produktivitas dalam berkarya pun samar-samar seperti hubungan kita, tidak jelas arahnya kemana.

Memang benar, berpikir matang-matang itu perlu, tetapi kalau terlalu dipikirkan justru akan menjadi beban dan menggangu kesehatan, mau melakukan apapun jadi susah karena sakit. So, please stop overthinking, Novie! 

3. Pesimis 

"Pessimistic is the result of overthinking"

Terlalu banyak berpikir seringkali menimbulkan rasa paranoid terhadap segala hal. Takut gagal, takut dimarahi, takut dinilai buruk, takut tidak dihargai dan semacamnya, alasan-alasan tersebut membuat seorang overthinker ragu merealisasikan apa yang sudah diangan-angankan sejak lama, mereka telah menerka-nerka kerugian seperti apa yang akan diperoleh sebelum benar-benar mencoba. 

Ini seringkali aku rasakan, tak jarang aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memikirkan sisi negatif dari sebuah kesempatan yang nyatanya sangat berharga apabila dilewatkan.  Harusnya aku lebih bisa menerima kenyataan, bahwa segala sesuatu di dunia memiliki resiko dan aku hanya perlu memberanikan diri untuk menghadapi itu semua. You just need to be brave!

4. Susah Tidur
"Overthinking wants you to be an owl night "

Puncak dari segala keriuhan dalam kepala selalu muncul pada malam hari, ini merupakan salah satu penyebab insomnia, terkadang  aku terbangun tengah malam dan susah untuk tidur lagi berkat isi kepala yang berkecamuk ria.

Saat malam hari, segala jenis pemikiran dan pertanyaan akan mulai meramaikan isi kepala, dari satu pertanyaan bisa berkembang biak menjadi banyak. Hal tersebut seringkali memicu perasaan galau, bimbang, resah dan lain-lain; adakalanya muncul pemikiran tentang mantan dan kenangan, penasaran dengan proses penciptaan alam, bagaimana keadaan bumi jika dilihat dari planet mars, dan akan berjodoh dengan siapa di masa depan. Entahlah. Intinya overthinking benar-benar menggangu waktu istirahatku

Biasanya kalau sudah begini, solusi yang sering aku terapkan adalah berusaha untuk mengabaikan pemikiran-pemikiran tersebut dengan fokus pada satu hal saja; membaca buku, mendengarkan musik, menulis atau bahkan yang paling manjur adalah beribadah di sepertiga malam. Insha’Allah hati dan pikiran jadi tenang, tidurpun jadi nyenyak.  Aamiin.

5. Akrab dengan Istilah LOLA

"Slow thinker will be your another nick name. Huh?!"

Sejak duduk di bangku SMP hingga menginjakkan kaki di bangku perkuliahan, istilah Lola dan Lemot tidak tidak pernah enyah dari indera pendegaranku.  Entah apa yang melatarbelakangi itu semua, yang aku tahu Lola dan Lemot adalah sebuah istilah yang digunakan untuk orang dengan daya tangkap lambat, aku tidak mengakui memiliki daya tangkap yang cepat tapi bukan berarti slow thinker juga, hiks. Membingungkan. Untuk yang satu ini, aku tidak punya solusi lain selain meyakinkan teman-temanku bahwa aku bukan Lola, tapi Novi. Ya. Ya. Ya!

“Nov, makan di kantin yuk”

“Makan di kantin?”  *Mikir*

“Nov mikirin apasih? laper nih”

“Gini ya, 2 jam lagi setelah kelas speaking kan udah mau pulang, daripada aku makan di kantin, lebih baik makan di rumah aja biar hemat. Kadang makan di kantin bikin gak kenyang, duit udah habis tapi perut masih pengen diisi, ditambah lagi penjaga kantinnya rese, mau ngutang gak dibolehin, kantin juga sering penuh, pas dateng malah gak dapet meja, masa makan dilantai? mending kita makan di rumah aku aja setelah pulang kuliah”

“Yasalam banyak banget alasannya, tadinya pengen traktir, tapi yaudah deh”

“Serius? Oke, capcus!”

“Dari tadi kek! Dasar lola, lama banget mikirnya”

“Itu bukan lola”

“Lola”

“Bukan”

“Lola”

“Bukaannnn”

“Terserah”

“………” 

***

Sebenarnya masih banyak lagi akibat overthinking yang aku alami, tapi aku rasa poin-poin di atas sudah mewakilkan semuanya dan MASYA’ALLAH, KENAPA GAK DARI KEMARIN AJA AKU NULIS TENTANG INI? Ck.  

Btw, tulisan ini aku buat sebagai self-reminder! Semoga bisa menjadi pengingat agar aku tidak lagi berlarut-larut memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan secara mendalam apalagi dalam jangka waktu lama. Berpikir matang-matang boleh-boleh saja, tapi ada saatnya juga, jangan semua hal dipikirkan sampai ke akar-akarnya, kalau sakit kepala kan bukan salah mantan tapi salah kamu, Nov! Sip~

Share:

22 komentar:

  1. Emang kalau kebanyakan fikiran bikin stres dan kerjaan nggak maksimal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak mikir bikin kerjaan gak maksimal, kurang mikir juga sama kayaknya xD

      Hapus
  2. ada wkatunya kita berpikir panjang, ada waktunya kita berpikir pendek. jadi kalau kita overthinking, tinggal kita kurangi sedikit. misalnya dalam keadaan darurat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu yang lagi aku usahakan, harus ada batasannya ya, biar pikiran kita gak kemana-mana. Makasih mas fajar:))

      Hapus
    2. sami sami, dek. dimulai dari hal kecil dulu untuk menghentikan overthinking dek :)

      Hapus
  3. kenapa ya gue baru berkunjung ke sini, terus2an muter lagu di soundcloudnya.. seperti memang asik sembari baca trus dengerin deh lagunya.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Astagfirullah, lagu yang di soundcloud itu aku aku cuma iseng nyanyi. Waduh wkwkw

      Hapus
  4. Ahaha kalo yang kurang tidur akibat banyak mikir itu gue banget. Iya, kebanyakan mikirin masa depan yang belum terjadi. Takut inilah, itulah. Pffft. Kalo soal menulis, alhamdulillah udah nggak pernah takut. Selalu inget tujuan gue menulis, cuma ingin berbagi cerita dan menumpahkan resah. Ada yang baca syukur, enggak gapapa. Kalo dibilang jelek tulisannya, ya tinggal perbaiki. Minta kritik dan saran. Ehehe.

    Dan kalo soal lemot, gue bukannya lemot pas overthinking, tapi langsung blank. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mikirin masa lalu sampe mikirin masa depan hahah. Wah mantep tuh, Yog. Insha'Allah setelah ini aku juga udah nggak takut lagi. Thank you. Heuheu

      Wah kalo ngeblank lain lagi ceritanya, aku mah ngeblank pas lagi grogi dan takut ajasih :3

      Hapus
  5. Emang sih.. Kalo terlalu banyak dipikirkan bakalan gitu. Kayak jadi beban.. Tapi gak sepenuhnya bener. Kadang dipikirkan dua kali itu juga penting. Ahaha apasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aha, intinya sih harus ada batasan. Yap, penting banget, apalagi sebelum mengambil keputusan, harus mikir dua kali. Heuhaha~

      Hapus
  6. Halooo Teh Nov! Aku juga termasuk orang yang overthinker, nih. Cuman alhamdulillah masih bisa kendali. Soalnya sejak awal masuk SMK diamanahin sama temen-temen jadi ketua kelas, jadi harus bisa ambil keputusan dengan cepat tapi matang. Hehehe
    Itu happiness, s-nya kurang satu lagi, Teh.
    Ovethinker orang yang susah tidur? Nggak juga ah. Aku mau ada pikiran atau nggak ya tidur mah nggak sampai begadang dan nggak malem-malem hahaha
    Dari tiap poin, aku paling setuju sama pesimis. Overthinker itu tanda orang kurang pede. Tapi sedih sih kalo ternyata bisa dibilang lola :')
    Tapi menurut aku nggak selalu overthinker itu negatif. Asalkan hal yang dipikirkan itu hal yang ada direalisasinya masih lama kayak misal kelas 3 SMK maunya milih kerja atau kuliah dulu... Idk sih gimana menurut teteh tapi ada saatnya kita jadi overthink dan simple. :)
    Inipun jadi reminded for myself. Thanks!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halooo, Riska! Wah pemimpin emang harus gitu, ambil keputusan dengan cepat dan tepat. Eh iya hahah, lupa satu huruf, makasih yaa, heheu. Berarti kamu beruntung, kebanyakan penyebab insomnia itu karena overthinking, Ris. :(

      Oh, kalo yang itu emang harus dipertimbangkan secara matang supaya nanti gak salah ngambil keputusan untuk kedepannya(?) Hahah

      Hapus
  7. Aaakkkk, trnyata si novi ini orng yg overthinking jga ya? Kita bedaan nov, hahah.

    G ada salahnya sih dpikir panjang dlu sbelum mlakukan atau mrespon sesuatu, selagi sesuatu itu msih layak untuk dipikirkan. Kcuali mntan yg mmng sdah tak layak beredar didlam pikiran. Salahin aja trus. :")

    Slama msih dlam btas yg wajar sih g msalah nov, toh brpikir adalah anugrah dri yg diatas. Tpi klo kelamaan jga ga baik, apalagi klo ditanya "kamu mau jdi pacar aku nggak?" Kira kmu pkir brapa abad nov?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaakkk. Iya, ternyata kita bedaan. Yeay!

      Hahah memang gak ada salahnya sih, yang penting dikasih limit biar engga mikir ke sisi negatif, eheheu. Yup, mantannnn enyahlah~

      Hahah kalo yang itu aku gak tau, Rey. Kayaknya gak sampe berabad-abad, kelamaan~

      Hapus
  8. Aaakkkk, trnyata si novi ini orng yg overthinking jga ya? Kita bedaan nov, hahah.

    G ada salahnya sih dpikir panjang dlu sbelum mlakukan atau mrespon sesuatu, selagi sesuatu itu msih layak untuk dipikirkan. Kcuali mntan yg mmng sdah tak layak beredar didlam pikiran. Salahin aja trus. :")

    Slama msih dlam btas yg wajar sih g msalah nov, toh brpikir adalah anugrah dri yg diatas. Tpi klo kelamaan jga ga baik, apalagi klo ditanya "kamu mau jdi pacar aku nggak?" Kira kmu pkir brapa abad nov?

    BalasHapus
  9. Hahaha. Baca tulisan ini berasa ngaca diri sendiri deh.

    Kamu mirip ama saya. Setiap kali mau nulis , saya cenderung 'memikirkan apa yang mau dituangkan'. Karena itulah, saya gak terlalu sering update blog.

    Makanya saya suka salut deh ama penulis blog yang punya mindset 'menuangkan apa yang ada di pikiran'. Kayaknya mengalir aja gitu, gak ada hambatan sedikit pun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga salut sama yang rajin update blog tanpa mikir panjang harus posting apa, menulis apa adanya tanpa ragu-ragu sama ini itu huhu.

      Hapus
  10. Bahahhahakkkk.... sama. Temen-temen bilang gue ribet. Mau pergi selalu overthink ini-itu soalnya di jalan kadang suka was-was. Tapi sekarang mulai belajar untuk nggak terlalu overthink lagi..ya itu, karena nantinya capek sendiri. Kalau mau ngapain gitu atau mau ke mana, bikin list. Lumayan bikin tenang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga lagi dalam proses untuk engga lagi overthink. Semacam to-do list gitu ya, Ran? aku juga tiap hari selalu sempetin untuk bikin list biar lebih terorganizir aja gitu. Heheu

      Hapus
  11. ini defenisi overthinking sama gejala-gejalanya masuk soal uts nggak ya kak ? :D :D
    aah kangen baca tulisannya kakak :') udah banyak yang terlewat sepertinyaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah masuk uts dalam mata pelajaran psikologi kayaknya (?) xD

      Aaaakkk, kangen jugaa, Riska. Ayodong, update blognya lagii, kangen baca tulisan kamu juga nih :')

      Hapus