Baca Berita di Aplikasi Uzone, dapat Informasi, dapat Pulsa juga lho!

Baca Berita di Aplikasi Uzone, dapat Informasi, dapat Pulsa juga lho!

Kalian pernah tidak ditanyai perihal bahan bacaan favorit? Entah semasa sekolah atau kapan pun itu? Sudah pasti pernah dong, ehe. Setiap kali mendapati pertanyaan tersebut, aku selalu teringat pada jawabanku semasa SMP dulu ketika ditanyai oleh seorang guru perihal bacaan favorit siswanya, rata-rata temanku menjawab menyukai buku cerita dongeng dan komik atau buku cerita bergambar. Lalu guru tersebut bertanya lagi “Kalau baca koran, suka gak?” mendengar pertanyaan itu aku kemudian menjawabnya dengan percaya diri “Saya suka baca koran, Pak! Tapi itu kalau korannya ada gambar makanan atau ada cerita dan puisi bagus di dalamnya.”. Sebenarnya yang kumaksud dengan gambar makanan itu juga lebih ke resep masakan sih, sebab Ibuku termasuk orang yang suka mengumpulkan resep masakan di koran, dari situlah aku pun ikut[-ikutan] mengumpulkan resep yang ada di koran maupun majalah.  

Terkadang aku juga membaca beberapa berita yang terpampang di halaman koran, namun sangat jarang membacanya sampai selesai apabila isi berita tersebut tidak sesuai dengan minatku(?), banyak maunya sih emang, maapkan. Seiring berkembangnya zaman, media cetak berupa koran pun perlahan bergeser ke media digital, ibuku yang dulunya sering mengumpulkan resep masakan dengan cara menggunting lembaran koran, kini lebih senang mengumpulkan screenshot resep dari beberapa situs yang dikunjunginya, aku yang senang membaca puisi di rubrik sastra pada surat kabar pun kini bisa lebih gampang menemukan banyak puisi bagus di beberapa situs, kapan saja.  Selain itu, untuk mengetahui berita terbaru, aku juga bisa dengan mudah membacanya di berbagai portal berita yang tersedia di Internet. Nah, salah satu portal berita yang masuk dalam list favoritku adalah Uzone atau Uzone.id.

Baca Berita di Aplikasi Uzone, dapat Informasi, dapat Pulsa juga lho!

Sesuai dengan judul tulisan ini, Uzone.id kumasukan ke dalam list portal berita favoritku karena merupakan salah satu situs yang tidak hanya menyajikan berita dan informasi terkini tetapi juga memberikan apresiasi kepada pembacanya berupa poin yang dapat ditukarkan dengan pulsa. Selain itu di Uzone.id kamu juga dapat menemukan berita yang masih fresh dengan berbagai kategori, seperti kategori hiburan, teknologi, games, kesehatan, travel dan hangout.  Nah kan, kategorinya bisa dipilih sesuai keinginan, salah satu sub-favoritku adalah lifestyle, kalau kamu apa?

Oh ya, untuk mendaftarkan diri di Uzone.id pun tidak begitu sulit, kamu bisa mendaftar dengan akun sosial media yang yang kamu miliki, konfirmasi email, kemudian mengisi pin dan nomor handphone agar poin yang di-redeem dengan pulsa dapat langsung masuk ke nomormu. Nah, buat kamu yang baru pertama kali mendaftar, kamu akan mendapatkan poin gratis dari Uzone sebanyak 5000 poin dan poin tersebut akan terus bertambah apabila kamu membaca, berkomentar dan membagikan berita yang tersedia di Uzone.id.

Baca Berita di Aplikasi Uzone, dapat Informasi, dapat Pulsa juga lho!

Lalu berapa sih point yang bisa didapat dari aktivitas tersebut? Saat kamu membaca berita, kamu akan mendapat point sebesar 10 point, kemudian 50 poin saat memberikan komentar di tiap berita, dll. Jadi, semakin sering kamu berinteraksi di portal berita atau aplikasi Uzone ini, maka akan bertambah pula point di akunmu. Makin rajin baca berita nih kayaknya. HeheSudah kubilang kan? baca berita di Uzone.id, selain dapat informasi, dapat pulsa juga, duh asiknyaaa! Aku sendiri sudah redeem point dua kali, lho! Mayan pulsanya buat nambah-nambah beli paketan atau nelpon pacar di seberang lautan. Halah~

Baca Berita di Aplikasi Uzone, dapat Informasi, dapat Pulsa juga lho!

Kapan lagi sih bisa baca berita terus dapat pulsa gratis dari portalnya langsung? Udah beritanya fresh, App-nya pun bikin nyaman. Jadi tunggu apa lagi, yuk instal Uzone di handphonemu, App ini bisa langsung diunduh melalui App Store dan PlayStore. Yuhuu~

Proteksi Diri di Masa Muda dengan Asuransi dan Investasi

Proteksi Diri di Masa Muda dengan Asuransi dan Investasi
Orang-orang sering mengatakan bahwa masa depan adalah sebuah misteri, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti, apakah akan bahagia dan terjamin atau mendapati hal lain yang mungkin terjadi di luar ekspektasi, di samping dari itu, tentu saja setiap orang mengingin[-angan]kan masa depannya terjamin dan dipenuhi suka cita, oleh karena itulah, mempersiapkan masa depan merupakan hal yang wajib untuk dilakukan sejak jauh-jauh hari, sebab ada pepatah yang berbunyi “The future depends on  what we do in the present”  artinya masa depan kita tergantung pada apa yang kita lakukan saat ini. Kalau sudah begitu, kira-kira apa saja sih yang perlu kita lakukan untuk mempersiapkan masa depan serta memproteksi diri kita di usia tua nanti?

Menabung - Proteksi Diri di Masa Muda dengan Asuransi dan Investasi
Menabung adalah salah satu cara mengantisipasi keadaan finansial kita di masa depan, sebab kita sendiri tidak pernah tahu bagaimana nasib di kemudian hari, bisa saja di masa yang akan datang nanti, kita berada pada keadaan krisis dan sangat membutuhkan uang, sehingga yang bisa membantu hanyalah tabungan yang kita miliki, tabungan ini sama halnya dengan uang cadangan atau aset yang dapat sedikit mengurangi beban kita. Jadi, ingat-ingatlah untuk selalu menyisihkan uang ke tabunganmu ya! Jangan hanya nabung rindu mulu, nanti susah ketemu. #SelfReminder. Ehe~

Berinvestasi - Proteksi Diri di Masa Muda dengan Asuransi dan Investasi
Selain menabung, berinvestasi adalah salah satu cara yang dilakukan banyak orang dalam rangka mempersiapkan masa depan mereka. Perbedaan dari menabung dan investasi adalah, menabung bersifat jangka pendek sementara investasi bersifat jangka panjang. Secara garis besar, investasi itu sendiri merupakan sebuah usaha penanaman dana berupa uang dan aset lainnya yang bertujuan untuk mendapatkan keutungan dari penanaman tersebut. Nah, kalau berinvestasi ternyata dapat membantu kita saat berada dalam kesulitan finansial di usia tua sekaligus mempersiapkan di masa depan yang sejahtera, why not?


Asuransi - Proteksi Diri di Masa Muda dengan Asuransi dan Investasi
Ada banyak hal yang bisa terjadi di masa depan nanti, seperti kehilangan, kecelakaan bahkan kematian, oleh karena itulah asuransi merupakan salah hal yang perlu kita persiapkan sebagai bentuk perlindungan dan jaminan di masa depan. Aku sering mendapati beberapa orang yang menganggap bahwa asuransi tidak begitu penting, padahal sebenarnya ada banyak keuntungan yang bisa didapatkan dari asuransi, yaitu dapat meminimalisir risiko kerugian yang dialami, mengatur keuangan juga sebagai investasi dan tabungan.

Nah, untuk mendapatkan jaminan dan keuntungan tersebut, tentu kita juga harus pintar-pintar memilih asuransi yang tepat dan dapat memenuhi kebutuhan perlindungan diri kita juga orang-orang yang dicintai, salah satu pilihan jasa asuransi yang tepat ya tentu Prudential, kalian pasti sudah tidak asing lagi kan dengan namanya?

Jadi, asuransi Prudential ini menyediakan berbagai produk dan layanan yang dirancang untuk memenuhi dan melengkapi setiap kebutuhan keuangan para nasabahnya di Indonesia, ditambah lagi, Prudential juga baru saja menghadirkan produk terbarunya, yaitu PRUlink generasi baru (PGB) dan PRUlink syariah generasi baru (PSGB).  Kedua produk ini merupakan generasi baru dari Prudential yang dapat memberikan solusi asuransi mengenai investasi yang inovatif dari Prudential Indonesia serta memberikan jaminan berupa perlindungan jiwa sekaligus alokasi investasi positif sejak dari tahun pertama kali nasabah membayar premi. PGB dan PSGB ini juga hadir dengan tiga keunggulan yang di antaranya adalah :

1. PRUbooster Proteksi
Keunggulan pertama dari produk terbaru Prudential merupakan sebuah fasilitas peningkatan uang Pertanggungan PRUlink (syariah) generasi baru sekaligus UP PRUlink term (syariah) (jika ada) seacara otomatis sebesar 5% setiap tahunnya tanpa proses Underwriting ulang sampai usia 55 tahun yang bisa dipilih saat pengajuan surat permintaan asuransi jiwa atau SPAJ. Peningkatan UP ini juga akan diikuti dengan penyesuaian premi. 
PRUbooster Proteksi

2. PRUboster Investasi
Keunggulan kedua dari produk terbaru Prudential yaitu Prubooster investasi yang merupakan tambahan alokasi investasi sejak premi perama kali dibayar oleh nasabah sesuai waktu yang telah ditentukan atau dibayar tepat waktu dalam masa tenggang atau grace period. 
PRUboster Investasi

3. Pilihan Asuransi Tambahan
Untuk keunggulan yang ketiga ini, Prudential memberikan dua pilihan asuransi tambahan yaitu:

PRUtotal & permanent disablement dan PRUtotal & permanent disablement syariah.
PRUtotal & permanent disablement syariah merupakan produk asuransi tambahan yang memberikan santunan kepada nasabah sesuai dengan prinsip syariah jika nasabah yang diasuransikan mengalami cacat total dan tetap akibat kecelakaan atau penyakit. Apabila Tertanggng Utama yang mengalami salah satu dari satu dari dua kondisi tertentu selama 180 hari berturut-turut (sejak awal didiagnosis oleh dokter spesialis di bidangnya), maka Tertaggung Utama tersebut akan diberikan 100% UP PRUtotal & permanent disablement (syariah).

PRUcritical hospital cover & PRUcritical hospital cover syariah
PRUcritical hospital cover syariah adalah produk asuransi tambahan yang memberikan perlindungan komprehensif atas perawatan kondisi kritis untuk setiap tahapan perawatan atas 12 kondisi kritis sesuai ketentuan polis dari sejak evaluasi medis hingga pemulihan di rumah sakit secara cashless jika memiliki produk H&S cover plus dan PPH, perlindungan kondisi kritis ini sesuai dengan tagihan dan tabel manfaan PRUciritical hospital cover(syariah) yang dapat dilakukan di seluruh dunia, disesuaikan dengan wilayah pertanggngan plan yang dipilih dengan mengunakan mata uang Rupiah.

Dari ketiga keunggulan di atas, nasabah Prudential akan memperoleh dua manfaat dasar dari PGB dan PSGB, yaitu :


1. Meninggal karena penyakit atau kecelakaan
Manfaat yang didapat adalah UPdasar+Nilai Tunai (jika ada) (termasuk saldo unit PRUBooster Investasi), lalu polis berakhir. Accident Cover booster ini juga merupakan manfaat yang akan diberikan jika memiliki UP dasar minimal Rp. 200 juta/USD 25.000 per polis. Kriteria klaim ini mengikuti ketentuan khusus polis yang maksimal UP yang dibayarkan sesuai dengan UP dasar paling akhir (jika terjadi major dan atau fasilitas PRUbooster proteksi dengan maksimal UP yang dapat dibayarkan untuk accident coover booster Rp. 2M/USD 250.000 per jiwa. Selain itu, akan ada tambahan 100% UP jika terjadi risiko meninggal akibat kecelakaan sebelum usia 70 tahun.

2. Saat Jatuh Tempo
Manfaat kedua dari PGB dan PSGB yaitu dapat mengcover pada nasabah sejak awal asuransi hingga usia 99 tahun. Selain dari itu, nasabah juga akan mendapat manfaat UP dasar + Nilai tunai (jika ada) termasuk saldo unit PRUBooster investasi apa bila mencapai usia 90 tahun.

***

Nah, setelah mengetahui beberapa hal di atas, rasanya tak perlu lagi ragu untuk mempersiapkan semuanya, toh tak ada salahnya bila kita mulai memproteksi diri sebagai antipasi dini pada setiap resiko-resiko yang mungkin dihadapi di masa depan nanti. Kuy~

Sumber foto :
-Pixabay

Lima Kebiasaan Yang Hanya Dipahami Pecinta Kucing

Kebiasaan para pecinta kucing

Kucing adalah salah satu jenis hewan yang menggemaskan karena tingkah lucunya, tak heran bila hewan berkaki empat ini disukai dan pelihara banyak orang, termasuk aku. Sebagai seorang penyuka kucing, beberapa kebiasaan yang sering kulakukan terhadap kucing terkadang  membuat orang lain di sekitarku terheran-heran, padahal menurutku kebiasaan tersebut merupakan hal yang wajar bagi seorang cat lovers. Kira-kira apa saja sih kebiasaan tersebut? Kamu yang pecinta kucing juga pasti pernah melakukan hal-hal di bawah ini :

1. Menyapa semua kucing yang ditemui di jalan, di mana pun. 

Rasanya sudah menjadi sesuatu yang ‘kucingawi’ apabila seseorang pecinta kucing secara tidak sadar maupun sadar menyapa kucing-kucing yang ditemuinya di jalan. Entah itu kucing kampung, kucing hutan, kucing metropolitan atau kucing garong sekali pun.

Setiap kali bepergian ke suatu tepat, bertemu atau berpapasan dengan kucing adalah suatu hal yang biasa, kadang aku bertemu dengan kucing di kampus, di jalan, di pasar, di warung, di mana-mana. Kucing selalu berhasil menarik perhatian sehingga rasanya ada yang kurang kalau tidak menyapa kucing-kucing tersebut.

Misalnya nih, lagi di jalan, terus ada kucing lewat, terkadang aku secara spontan akan mengeong ke kucing tersebut. Nah, saking seringnya menyapa kucing, kadang ketika berpapasan dengan teman, aku bukannya menyapa dengan kata “Hai”  tapi justru dengan  kata “Meong”  atau kadang saat aku menyapa hewan lain, misalnya menyapa kambing dengan kata “Mbek” entah kenapa jadinya malah seperti mengeong. Kalian mengalami hal serupa? kita sama!

2. Suka memotret dan menyimpan foto-foto kucing

Bukan rahasia lagi, pecinta kucing pasti sering melakukan ini. Memotret kucing, mengupload foto kucing di sosial media, hingga berswafoto dengan kucing adalah kebiasaan yang tak bisa dielakkan, apalagi ketika mendapat momen spesial saat si kucing sedang berpose lucu.

Aku sendiri sering mengajak kucing untuk berfoto ria, atau merekam video saat kucing sedang dalam keadaan manja-manjanya, hingga kadang merekam video kucing yang sedang bertengkar karena masalah percintaan. My cat’s love story is more complicated than mine.

3. Memberi Makan Kucing

Memberi makan kucing peliharaan tentu merupakan sebuah tanggung jawab, tapi bagaimana dengan kucing di luar sana? Ketika pergi ke kampus atau ke suatu tempat, seringkali seekor kucing berjalan mendekati dan mengeong-ngeong karena kelaparan, mereka yang pecinta kucing tentu tidak akan segan untuk langsung mengelus kucing tersebut, apa bila mereka memiliki makanan sudah dipastikan makanan itu akan dibagikan kepada kucing, kalau pun tidak memiliki apapun untuk dibagi, ending-nya si pecinta kucing pasti akan meminta maaf pada kucing tersebut dengan raut wajah dan nada suara yang sedih “Maafin aku ya, Cing.” Hiks.

Mengkhawatirkan kucing yang belum makan saat kita tidak berada di rumah juga merupakan suatu hal yang biasa. Beberapa bulan lalu saat ibuku berada di luar daerah, setiap hari beliau selalu mengingatkanku untuk memberi makan kucing, kadang beliau menelpon hanya untuk menanyakkan apakah keadaan kucing di rumah, makannya berapa kali dan lain sebagainya. Yha! Ibuku memang pecinta kucing sejati, kadang kalau aku lupa memberi kucing makan, ibuku pasti akan mengomeliku di depan kucing-kucing tersebut, aku pernah menceritakan itu di tulisan ini.

4.  Curhat dengan kucing

Orang-orang yang memiliki hewan peliharaan pasti sudah biasa mengobrol dan curhat dengan peliharaannya, termasuk para pecinta kucing. Curhat dengan kucing adalah salah satu hal menyenangkan yang bisa dilakukan, hal ini tentu ampuh untuk mengurangi stress, Mereka yang curhat pada kucing tentu bukan berarti tidak memiliki teman, tapi memang karena kucing dianggap memiliki perasaan dan dapat dipercaya, kucing tidak akan membocorkan rahasia apa bila dijadikan teman.

Mengobrol dan berbincang dengan kucing


5. Sedih setelah ditinggal pergi Kucing

Tidak ada lagi hal yang paling menyedihkan selain ditinggal pergi kucing kesayangan. Sebagai seorang pecinta kucing, kehilangan hewan tersebut adalah sebuah pengalaman buruk yang bisa membuat kita bersedih sampai menangis, belum lagi bila kepergiannya disebabkan karena hal-hal yang tidak diinginkan, seperti dipukuli orang, keracunan, atau karena ditabrak di jalan. Sedih banget. Hiks.

Aku sadar, beberapa orang, terutama mereka yang bukan pecinta kucing pasti akan menganggap kebiasaan-kebiasaan di atas aneh, tapi ketahuilah wahai orang-orang di luar sana, sebenarnya yang kami lakukan itu bukanlah hal yang aneh kok, justru itu merupakan sesuatu yang manusiawi menurut dunia perkucingan, jadi mohon pengertiannya. Sekian~
 

Merawat Mimpi Anak Kecil

Anak kecil dan cita-citanya

Orang-orang pernah berkata bahwa menjadi dewasa berarti harus siap menghadapi situasi yang kadang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, salah satunya yaitu harus siap terjebak pada sebuah pekerjaan yang awalnya tak pernah ada di daftar cita-cita atau pun profesi impian semasa remaja. Hingga pada suatu ketika, sebuah ingatan kembali menarik diri kita ke masa lalu, masa ketika seorang anak kecil dengan semangat membara menjawab pertanyaan khas yang sering ditanyakan oleh orang tua atau guru kepada anak-anak:

“Cita-citamu apa, Nak?”

Lalu anak kecil itu dengan lantang menyebutkan satu per satu mimpi, menjelaskan mengapa ia ingin menjadi ini dan itu, matanya berbinar dan bibirnya melengkung, tak ada kekawatiran yang tersirat di wajahnya, yang anak kecil itu tahu, ia [masih] bebas memilih menjadi apapun yang ia mau bila dirasanya menyenangkan untuk dibayangkan.     Kamu merasakan hal yang sama? Sedang ikut menilik cita-cita di masa lalu juga? Selamat! Itu artinya kamu sudah tua, eh salah ding, maksudnya itu berarti kita sedang berada di situasi yang sama sebab aku pun sedang bernostalgia dengan beberapa cita-citaku semasa kecil dulu, seperti:

1. Ingin Jadi Pelukis
Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, menggambar merupakan salah satu kegiatan yang paling kusukai, bahkan dulu, aku sering diikutsertakan dalam lomba menggambar dan mewarnai antar sekolah, meski pada akhirnya tak memenangi lomba-lomba tersebut sih, hehe. Bermula dari mengikuti lomba, kecintaanku terhadap kegiatan menggambar pun makin menjadi-jadi, alhasil setiap kali ditanya periha cita-cita,  ‘terkadang’ jawabanku adalah ingin menjadi tukang gambar atau pelukis karena kupikir sebuah profesi yang bermula dari hobi adalah suatu kebahagian yang paripurna~

Kenyataannya, sekarang tanganku rasanya kaku untuk mulai menggambar seperti dulu lagi, ternyata benar kata orang “practice makes perfect” kalo jarang dipraktekan, ya kapan-kapan aja lah ya perfect-nya. Hiks. 
2. Ingin Jadi Penulis
Ketika masih kelas 5 SD, aku pernah diam-diam membaca  buku catatan ibu yang tersimpan  di lemari kamar,  tulisan tersebut berhasil membuatku sedih, sebab catatannya menggunakan tulisan sambung dan aku udah pasti enggak bisa baca baca tulisan tersebut dong! Karena kecewa, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejak ibu; menulis catatan atau diary. Tentu, bukan dengan tulisan bersambung, agar kelak saat anak-anak aku diam-diam membaca buku diary ibunya, mereka bisa membaca tulisanku dengan perasaan puas. Hehe

Sejak terbiasa menulis diary, aku menjadi benar-benar jatuh cinta dengan dunia tulis-menulis, sampai sekarang. Semoga tercapai.

3. Ingin Jadi Penjaga Kebun Binatang
Baiklah, aku tidak ingin menyebutkan poin ini sebagai sesuatu yang konyol seperti kata orang-orang, karena menurutku ini justru merupakan salah satu cita-cita keren yang berbeda dengan cita-cita teman lain. Dulu, alasanku ingin menjadi penjaga kebun binatang adalah karena aku suka dengan banyak hewan, aku bahkan pernah menyebut diriku sebagai seorang pecinta hewan terutama kucing, namun karena di tempat tinggalku tidak ada kebun binatang, aku pun menjadikan rumah sebagai penggantinya. Aku pernah memelihara kambing milik nenek, memelihara burung hias milik tetangga, memelihara ayam pemberian Omku, memelihara kucing yang kuambil di jalanan,

Alhasil dari semua pengalaman itu, aku berpikir "keren juga ya kalau kerja di tempat yang banyak hewannya?" dan akhirnya terlintas di kepalaku untuk bercita-cita jadi penjaga kebun binatang. Ohya, aku tidak pernah mengatakan ini kepada orang tuaku, takut disuruh ganti cita-cita.

4. Ingin Berkeliling Dunia
Kurasa ini adalah salah satu cita-cita banyak orang. Sejak kecil aku selalu berangan-angan bisa mengunjungi berbagai negara karena penasaran dengan suasana dan musim-musim di sana. Aku ingin tahu musim salju, musim semi dan musim-musim lainnya itu seperti apa, jadinya berkeliling dunia pun kujadikan sebagai salah satu cita-citaku. Huhu 

***
Sampai pada baris ini, aku kemudian merenung lagi, adakah cita-cita lain yang belum aku ceritakan? adakah yang sudah berhasil kuwujudkan? hm, seandainya saja waktu bisa diputar kembali ke masa lalu, ketika ditanyai tentang cita-cita, mungkin jawabanku akan berubah; 

“kalau sudah dewasa, cita-citaku ingin menjadi kecil seperti saat ini lagi, Bu. Hehe”  

Ntap! 

Menjadi Pendengar

Ayah yang suka bercerita dan anak yang suka mendengarkan, atau pun sebaliknya
Ayahku adalah orang yang sangat suka bicara. Beliau bisa mengobrol dengan siapapun. Entah dengan tetangga, supir, penjual kaligrafi yang sedang berkeliling kampung mencari pembeli bahkan sampai dengan teman-teman sekolahku, sehingga tak perlu heran bila ayahku terlihat akrab dengan hampir semua teman dekat yang kupunya. Kadang yang dibicarakan tidak jelas, mulai dari kehidupan sehari-hari sampai wacana yang sedang hangat dibicarakan banyak orang. Apa pun topiknya, beliau bisa berbicara dengan asyik. Suaranya dalam. Pilihan katanya cermat. Tak lupa memberi sedikit lelucon supaya kalimatnya terdengar lucu dan dramatis. Kemampuan Ayah yangpandai berbicara ini berbanding terbalik denganku yang cenderung pendiam dan hanya banyak bicara pada orang tertentu atau pada orang yang sudah dekat denganku, kadang tergantung situasi, selain dari itu aku lebih suka mendengarkan.
Hal ini tentunya tak lepas dari pengaruh kedua orang tuaku, terutama Ayah. Sejak kecil Ayah kerap menceritakan tentang banyak hal padaku. Kadang, aku juga suka menyimak pembicaraan antara Ayah dan temannya, entah itu saat kami berkunjung ke rumah teman beliau atau pun saat rumah kami kedatangan tamannya. Padaku, Ayah lebih sering bercerita tentang masa muda dan masa-masa sekolahnya, ayah juga pernah dengan bangga bercerita bagaimana ia bisa menjadi siswa terkenal di sekolah, sampai-sampai ada beberapa cerita yang sudah beberapa kali kudengar.
“Inong tau, Papa dulu waktu SMA nih punya teman dekat namanya……..” “Papa dulu waktu SMA pernah disuruh maju ke depan kelas pake bahasa inggris sama Pak guru. Bahasa inggrisnya, come forward……. ” Dan cerita lainnya yang masih kuingat sampai sekarang, di balik cerita-cerita tersebut, aku tahu bahwa Ayah sedang menasehatiku dengan caranya sendiri, aku tahu bahwa Ayah sedang menyelipkan nasehat dan pelajaran yang bisa kuambil dari ceritanya, atau jika tidak, Ayah sendiri yang akan memberitahukan padaku; “Inong di kelas jangan tako kalo ada guru yang suruh Inong maju bicara di muka kelas. Papa dulu yang tara bisa bahasa inggris saja tara tako, masa Inong tako,” begitu katanya beberapa waktu silam dengan logat Ternate yang kental. Mendengar cerita Ayah sambil melihat raut wajahnya yang ekspresif, aku yakin, siapa pun yang juga mendengar cerita beliau pasti akan ikut tertawa dan larut dalam ceritanya. Suatu hari ibu pernah berkata padaku “Seandainya Ayahmu pernah berkuliah, dia mungkin akan jago di bidang Publik Speaking” Kata ibu sambil tertawa kecil. Aku ikut tersenyum mendengarnya sambil berhemmm-hemm ria ala Nissa Sabyan.
Ayahku memang bukanlah seorang yang pernah mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan, ayahku hanya lulusan SMA yang pernah bekerja sebagai supir angkot dan kini berprofesi sebagai seorang pekerja serabutan, beberapa bulan lalu beliau bekerja di sebuah kantor koperasi swasta yang ada di kampung, sayangnya kantor tersebut untuk sementara berhenti beroperasi karena suatu alasan. Setiap kali membahas tentang kuliah, ayah selalu menasehatiku perihal pendidikan, lagi-lagi beliau melanjutkan cerita yang membuatku tertegun dan penasaran sehingga aku akan duduk mendengarkan ceritanya sampai selesai, terkadang ketika aku bertanya dan menanggapi, Ayah akan semakin bersemangat bercerita. Tahun demi tahun berlalu, entah sejak kapan, aku jadi terbiasa untuk mendengarkan dan membiasakan diri mengobrol dengan banyak orang. Tak hanya Ayah. Tapi juga teman, kerabat, ibu-ibu di angkot, kucing, sampai orang asing yang duduk bersebelahan saat mengantri di bank, di angkot, dll. Kadang aku sendiri heran, tiba-tiba mereka bercerita tanpa aku ajak bicara, mungkin karena bosan dengan keadaan sekitar. Mengingat Ayah, membuatku tak segan untuk mendengarkan, kadang aku memberanikan diri untuk ikut bercerita dan menanggapi. Entah bagaimana, obrolan tersebut jadi mendalam. Terkadang kami bertukar kontak atau sekadar saling menambahkan teman di media sosial seperti Facebook. Setelah beranjak dewasa, aku sadar bahwa kejadian-kejadian itu bukanlah suatu kebetulan namun tercipta karena aku senang melakukannya. Tumbuh ditemani suara dan cerita-cerita dari Ayah membuatku belajar dua hal penting, yaitu belajar menjadi pendengar dan belajar untuk ‘bisa’ berbicara atau sekadar menanggapi cerita orang, sebisaku. Kadang di saat bingung atau dalam keadaan canggung di tengah-tengah orang-orang yang tak kukenali, aku akan mengingat Ayah, bagaimana cara beliau membuka obrolan dan cara beliau mencairkan suasana awkward adalah kemampuan yang ingin kumiliki, meski kenyataannya aku tetaplah seorang yang tidak banyak bicara, dengan orang baru, entahlah.
Hehe.