Lima Kebiasaan Yang Hanya Dipahami Pecinta Kucing

Kebiasaan para pecinta kucing

Kucing adalah salah satu jenis hewan yang menggemaskan karena tingkah lucunya, tak heran bila hewan berkaki empat ini disukai dan pelihara banyak orang, termasuk aku. Sebagai seorang penyuka kucing, beberapa kebiasaan yang sering kulakukan terhadap kucing terkadang  membuat orang lain di sekitarku terheran-heran, padahal menurutku kebiasaan tersebut merupakan hal yang wajar bagi seorang cat lovers. Kira-kira apa saja sih kebiasaan tersebut? Kamu yang pecinta kucing juga pasti pernah melakukan hal-hal di bawah ini :

1. Menyapa semua kucing yang ditemui di jalan, di mana pun. 

Rasanya sudah menjadi sesuatu yang ‘kucingawi’ apabila seseorang pecinta kucing secara tidak sadar maupun sadar menyapa kucing-kucing yang ditemuinya di jalan. Entah itu kucing kampung, kucing hutan, kucing metropolitan atau kucing garong sekali pun.

Setiap kali bepergian ke suatu tepat, bertemu atau berpapasan dengan kucing adalah suatu hal yang biasa, kadang aku bertemu dengan kucing di kampus, di jalan, di pasar, di warung, di mana-mana. Kucing selalu berhasil menarik perhatian sehingga rasanya ada yang kurang kalau tidak menyapa kucing-kucing tersebut.

Misalnya nih, lagi di jalan, terus ada kucing lewat, terkadang aku secara spontan akan mengeong ke kucing tersebut. Nah, saking seringnya menyapa kucing, kadang ketika berpapasan dengan teman, aku bukannya menyapa dengan kata “Hai”  tapi justru dengan  kata “Meong”  atau kadang saat aku menyapa hewan lain, misalnya menyapa kambing dengan kata “Mbek” entah kenapa jadinya malah seperti mengeong. Kalian mengalami hal serupa? kita sama!

2. Suka memotret dan menyimpan foto-foto kucing

Bukan rahasia lagi, pecinta kucing pasti sering melakukan ini. Memotret kucing, mengupload foto kucing di sosial media, hingga berswafoto dengan kucing adalah kebiasaan yang tak bisa dielakkan, apalagi ketika mendapat momen spesial saat si kucing sedang berpose lucu.

Aku sendiri sering mengajak kucing untuk berfoto ria, atau merekam video saat kucing sedang dalam keadaan manja-manjanya, hingga kadang merekam video kucing yang sedang bertengkar karena masalah percintaan. My cat’s love story is more complicated than mine.

3. Memberi Makan Kucing

Memberi makan kucing peliharaan tentu merupakan sebuah tanggung jawab, tapi bagaimana dengan kucing di luar sana? Ketika pergi ke kampus atau ke suatu tempat, seringkali seekor kucing berjalan mendekati dan mengeong-ngeong karena kelaparan, mereka yang pecinta kucing tentu tidak akan segan untuk langsung mengelus kucing tersebut, apa bila mereka memiliki makanan sudah dipastikan makanan itu akan dibagikan kepada kucing, kalau pun tidak memiliki apapun untuk dibagi, ending-nya si pecinta kucing pasti akan meminta maaf pada kucing tersebut dengan raut wajah dan nada suara yang sedih “Maafin aku ya, Cing.” Hiks.

Mengkhawatirkan kucing yang belum makan saat kita tidak berada di rumah juga merupakan suatu hal yang biasa. Beberapa bulan lalu saat ibuku berada di luar daerah, setiap hari beliau selalu mengingatkanku untuk memberi makan kucing, kadang beliau menelpon hanya untuk menanyakkan apakah keadaan kucing di rumah, makannya berapa kali dan lain sebagainya. Yha! Ibuku memang pecinta kucing sejati, kadang kalau aku lupa memberi kucing makan, ibuku pasti akan mengomeliku di depan kucing-kucing tersebut, aku pernah menceritakan itu di tulisan ini.

4.  Curhat dengan kucing

Orang-orang yang memiliki hewan peliharaan pasti sudah biasa mengobrol dan curhat dengan peliharaannya, termasuk para pecinta kucing. Curhat dengan kucing adalah salah satu hal menyenangkan yang bisa dilakukan, hal ini tentu ampuh untuk mengurangi stress, Mereka yang curhat pada kucing tentu bukan berarti tidak memiliki teman, tapi memang karena kucing dianggap memiliki perasaan dan dapat dipercaya, kucing tidak akan membocorkan rahasia apa bila dijadikan teman.

Mengobrol dan berbincang dengan kucing


5. Sedih setelah ditinggal pergi Kucing

Tidak ada lagi hal yang paling menyedihkan selain ditinggal pergi kucing kesayangan. Sebagai seorang pecinta kucing, kehilangan hewan tersebut adalah sebuah pengalaman buruk yang bisa membuat kita bersedih sampai menangis, belum lagi bila kepergiannya disebabkan karena hal-hal yang tidak diinginkan, seperti dipukuli orang, keracunan, atau karena ditabrak di jalan. Sedih banget. Hiks.

Aku sadar, beberapa orang, terutama mereka yang bukan pecinta kucing pasti akan menganggap kebiasaan-kebiasaan di atas aneh, tapi ketahuilah wahai orang-orang di luar sana, sebenarnya yang kami lakukan itu bukanlah hal yang aneh kok, justru itu merupakan sesuatu yang manusiawi menurut dunia perkucingan, jadi mohon pengertiannya. Sekian~
 

Merawat Mimpi Anak Kecil

Anak kecil dan cita-citanya

Orang-orang pernah berkata bahwa menjadi dewasa berarti harus siap menghadapi situasi yang kadang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, salah satunya yaitu harus siap terjebak pada sebuah pekerjaan yang awalnya tak pernah ada di daftar cita-cita atau pun profesi impian semasa remaja. Hingga pada suatu ketika, sebuah ingatan kembali menarik diri kita ke masa lalu, masa ketika seorang anak kecil dengan semangat membara menjawab pertanyaan khas yang sering ditanyakan oleh orang tua atau guru kepada anak-anak:

“Cita-citamu apa, Nak?”

Lalu anak kecil itu dengan lantang menyebutkan satu per satu mimpi, menjelaskan mengapa ia ingin menjadi ini dan itu, matanya berbinar dan bibirnya melengkung, tak ada kekawatiran yang tersirat di wajahnya, yang anak kecil itu tahu, ia [masih] bebas memilih menjadi apapun yang ia mau bila dirasanya menyenangkan untuk dibayangkan.     Kamu merasakan hal yang sama? Sedang ikut menilik cita-cita di masa lalu juga? Selamat! Itu artinya kamu sudah tua, eh salah ding, maksudnya itu berarti kita sedang berada di situasi yang sama sebab aku pun sedang bernostalgia dengan beberapa cita-citaku semasa kecil dulu, seperti:

1. Ingin Jadi Pelukis
Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, menggambar merupakan salah satu kegiatan yang paling kusukai, bahkan dulu, aku sering diikutsertakan dalam lomba menggambar dan mewarnai antar sekolah, meski pada akhirnya tak memenangi lomba-lomba tersebut sih, hehe. Bermula dari mengikuti lomba, kecintaanku terhadap kegiatan menggambar pun makin menjadi-jadi, alhasil setiap kali ditanya periha cita-cita,  ‘terkadang’ jawabanku adalah ingin menjadi tukang gambar atau pelukis karena kupikir sebuah profesi yang bermula dari hobi adalah suatu kebahagian yang paripurna~

Kenyataannya, sekarang tanganku rasanya kaku untuk mulai menggambar seperti dulu lagi, ternyata benar kata orang “practice makes perfect” kalo jarang dipraktekan, ya kapan-kapan aja lah ya perfect-nya. Hiks. 
2. Ingin Jadi Penulis
Ketika masih kelas 5 SD, aku pernah diam-diam membaca  buku catatan ibu yang tersimpan  di lemari kamar,  tulisan tersebut berhasil membuatku sedih, sebab catatannya menggunakan tulisan sambung dan aku udah pasti enggak bisa baca baca tulisan tersebut dong! Karena kecewa, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejak ibu; menulis catatan atau diary. Tentu, bukan dengan tulisan bersambung, agar kelak saat anak-anak aku diam-diam membaca buku diary ibunya, mereka bisa membaca tulisanku dengan perasaan puas. Hehe

Sejak terbiasa menulis diary, aku menjadi benar-benar jatuh cinta dengan dunia tulis-menulis, sampai sekarang. Semoga tercapai.

3. Ingin Jadi Penjaga Kebun Binatang
Baiklah, aku tidak ingin menyebutkan poin ini sebagai sesuatu yang konyol seperti kata orang-orang, karena menurutku ini justru merupakan salah satu cita-cita keren yang berbeda dengan cita-cita teman lain. Dulu, alasanku ingin menjadi penjaga kebun binatang adalah karena aku suka dengan banyak hewan, aku bahkan pernah menyebut diriku sebagai seorang pecinta hewan terutama kucing, namun karena di tempat tinggalku tidak ada kebun binatang, aku pun menjadikan rumah sebagai penggantinya. Aku pernah memelihara kambing milik nenek, memelihara burung hias milik tetangga, memelihara ayam pemberian Omku, memelihara kucing yang kuambil di jalanan,

Alhasil dari semua pengalaman itu, aku berpikir "keren juga ya kalau kerja di tempat yang banyak hewannya?" dan akhirnya terlintas di kepalaku untuk bercita-cita jadi penjaga kebun binatang. Ohya, aku tidak pernah mengatakan ini kepada orang tuaku, takut disuruh ganti cita-cita.

4. Ingin Berkeliling Dunia
Kurasa ini adalah salah satu cita-cita banyak orang. Sejak kecil aku selalu berangan-angan bisa mengunjungi berbagai negara karena penasaran dengan suasana dan musim-musim di sana. Aku ingin tahu musim salju, musim semi dan musim-musim lainnya itu seperti apa, jadinya berkeliling dunia pun kujadikan sebagai salah satu cita-citaku. Huhu 

***
Sampai pada baris ini, aku kemudian merenung lagi, adakah cita-cita lain yang belum aku ceritakan? adakah yang sudah berhasil kuwujudkan? hm, seandainya saja waktu bisa diputar kembali ke masa lalu, ketika ditanyai tentang cita-cita, mungkin jawabanku akan berubah; 

“kalau sudah dewasa, cita-citaku ingin menjadi kecil seperti saat ini lagi, Bu. Hehe”  

Ntap! 

Menjadi Pendengar

Ayah yang suka bercerita dan anak yang suka mendengarkan, atau pun sebaliknya
Ayahku adalah orang yang sangat suka bicara. Beliau bisa mengobrol dengan siapapun. Entah dengan tetangga, supir, penjual kaligrafi yang sedang berkeliling kampung mencari pembeli bahkan sampai dengan teman-teman sekolahku, sehingga tak perlu heran bila ayahku terlihat akrab dengan hampir semua teman dekat yang kupunya. Kadang yang dibicarakan tidak jelas, mulai dari kehidupan sehari-hari sampai wacana yang sedang hangat dibicarakan banyak orang. Apa pun topiknya, beliau bisa berbicara dengan asyik. Suaranya dalam. Pilihan katanya cermat. Tak lupa memberi sedikit lelucon supaya kalimatnya terdengar lucu dan dramatis. Kemampuan Ayah yangpandai berbicara ini berbanding terbalik denganku yang cenderung pendiam dan hanya banyak bicara pada orang tertentu atau pada orang yang sudah dekat denganku, kadang tergantung situasi, selain dari itu aku lebih suka mendengarkan.
Hal ini tentunya tak lepas dari pengaruh kedua orang tuaku, terutama Ayah. Sejak kecil Ayah kerap menceritakan tentang banyak hal padaku. Kadang, aku juga suka menyimak pembicaraan antara Ayah dan temannya, entah itu saat kami berkunjung ke rumah teman beliau atau pun saat rumah kami kedatangan tamannya. Padaku, Ayah lebih sering bercerita tentang masa muda dan masa-masa sekolahnya, ayah juga pernah dengan bangga bercerita bagaimana ia bisa menjadi siswa terkenal di sekolah, sampai-sampai ada beberapa cerita yang sudah beberapa kali kudengar.
“Inong tau, Papa dulu waktu SMA nih punya teman dekat namanya……..” “Papa dulu waktu SMA pernah disuruh maju ke depan kelas pake bahasa inggris sama Pak guru. Bahasa inggrisnya, come forward……. ” Dan cerita lainnya yang masih kuingat sampai sekarang, di balik cerita-cerita tersebut, aku tahu bahwa Ayah sedang menasehatiku dengan caranya sendiri, aku tahu bahwa Ayah sedang menyelipkan nasehat dan pelajaran yang bisa kuambil dari ceritanya, atau jika tidak, Ayah sendiri yang akan memberitahukan padaku; “Inong di kelas jangan tako kalo ada guru yang suruh Inong maju bicara di muka kelas. Papa dulu yang tara bisa bahasa inggris saja tara tako, masa Inong tako,” begitu katanya beberapa waktu silam dengan logat Ternate yang kental. Mendengar cerita Ayah sambil melihat raut wajahnya yang ekspresif, aku yakin, siapa pun yang juga mendengar cerita beliau pasti akan ikut tertawa dan larut dalam ceritanya. Suatu hari ibu pernah berkata padaku “Seandainya Ayahmu pernah berkuliah, dia mungkin akan jago di bidang Publik Speaking” Kata ibu sambil tertawa kecil. Aku ikut tersenyum mendengarnya sambil berhemmm-hemm ria ala Nissa Sabyan.
Ayahku memang bukanlah seorang yang pernah mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan, ayahku hanya lulusan SMA yang pernah bekerja sebagai supir angkot dan kini berprofesi sebagai seorang pekerja serabutan, beberapa bulan lalu beliau bekerja di sebuah kantor koperasi swasta yang ada di kampung, sayangnya kantor tersebut untuk sementara berhenti beroperasi karena suatu alasan. Setiap kali membahas tentang kuliah, ayah selalu menasehatiku perihal pendidikan, lagi-lagi beliau melanjutkan cerita yang membuatku tertegun dan penasaran sehingga aku akan duduk mendengarkan ceritanya sampai selesai, terkadang ketika aku bertanya dan menanggapi, Ayah akan semakin bersemangat bercerita. Tahun demi tahun berlalu, entah sejak kapan, aku jadi terbiasa untuk mendengarkan dan membiasakan diri mengobrol dengan banyak orang. Tak hanya Ayah. Tapi juga teman, kerabat, ibu-ibu di angkot, kucing, sampai orang asing yang duduk bersebelahan saat mengantri di bank, di angkot, dll. Kadang aku sendiri heran, tiba-tiba mereka bercerita tanpa aku ajak bicara, mungkin karena bosan dengan keadaan sekitar. Mengingat Ayah, membuatku tak segan untuk mendengarkan, kadang aku memberanikan diri untuk ikut bercerita dan menanggapi. Entah bagaimana, obrolan tersebut jadi mendalam. Terkadang kami bertukar kontak atau sekadar saling menambahkan teman di media sosial seperti Facebook. Setelah beranjak dewasa, aku sadar bahwa kejadian-kejadian itu bukanlah suatu kebetulan namun tercipta karena aku senang melakukannya. Tumbuh ditemani suara dan cerita-cerita dari Ayah membuatku belajar dua hal penting, yaitu belajar menjadi pendengar dan belajar untuk ‘bisa’ berbicara atau sekadar menanggapi cerita orang, sebisaku. Kadang di saat bingung atau dalam keadaan canggung di tengah-tengah orang-orang yang tak kukenali, aku akan mengingat Ayah, bagaimana cara beliau membuka obrolan dan cara beliau mencairkan suasana awkward adalah kemampuan yang ingin kumiliki, meski kenyataannya aku tetaplah seorang yang tidak banyak bicara, dengan orang baru, entahlah.
Hehe.

Keseruan Berburu Foto di Gurabala Hiri

Blogger Malut jalan-jalan ke Hiri; ke pantai Tomajiko; Gurabala Hiri.

Minggu, 5 Agustus 2018. Berawal dari sebuah pesan singkat Whatsapp yang kubaca pada pukul tujuh pagi, rencanaku untuk bermalas-malasan di hari itu pun dengan senang hati kubatalkan; “Novi, jam satu kita ke Hiri, yuk! Sama temen-temen Jarkot. Pemuda di sana ingin berbagi cerita tentang Hiri. Ajak teman yang lain, sekitar satu atau dua orang”. Pesan yang dikirimkan oleh Pembina Komunitas Blogger Malut, Kak Arif tersebut lantas membuatku girang; “Hore, hari mingguku kali ini berfaedah.” begitu pikirku. Pesan dari Kak Arif itu pun kubalas dengan beberapa pertanyaan receh ihwal transportasi dan lokasi berkumpul nanti, untunglah Kak Arif orangnya sabar, jadi aku bisa bertanya lebih banyak, ehehe. Beberapa menit kemudian, aku langsung menghubungi dua orang teman yang akan menemaniku nanti; Gina dan Dina, tanpa basa-basi mereka berdua dengan sigap menerima ajakanku. Ntap!

Tepat pukul satu siang, aku dan dua temanku yang harusnya tiba di lokasi satu jam lebih awal justru malah terlambat karena miskomunikasi; kami nyasar, gaes! Kali ini kami beruntung karena kakak-kakak dari Jarkot sedang berbaik hati ingin menjemput sehingga kami bisa langsung bergegas ke pelabuhan Hiri yang lokasinya berdekatan dengan pantai Sulamadaha. Sebagai informasi, Jarkot bukan nama tempat ya, tetapi singkatan dari Jaringan Komunitas Kota Ternate, yaitu sebuah wadah berhimpun dan berkumpulnya komunitas-komunitas di kota ini. Ada banyak komunitas dengan berbagai latar belakang yang tergabung di dalamnya; ada yang bergerak di bidang pendidikan-literasi, seni, budaya, fotografi, pariwisata, otomotif, komunitas motor, dll. Termasuk Komunitas Blogger Maluku Utara yang baru terbentuk baru pada akhir tahun 2017 lalu. Horay~

Menyebrangi Lautan Ternate - Hiri dengan kapal kayu

Setelah ±15 menit perjalanan dari pusat kota, kami pun tiba ke tempat berlabuhnya kapal-kapal yang akan membawa kami ke pulau seberang. Rupanya sudah banyak teman Jarkot yang menunggu sejak tadi. Kebanyakan dari mereka merupakan orang-orang dari komunitas fotografi, dari sinilah aku tahu bahwa tujuan kami berkunjung ke Hiri selain untuk sharing cerita dengan pemuda di sana, kami juga akan menghadiri sebuah workshop fotografi yang diadakan oleh Jarkot, workshop ini merupakan bagian dari event Bulan Foto Ternate. So Interesting!      Tak menunggu lama, pukul 13:00 WIT, kami semua melanjutkan perjalanan menuju Hiri, menyebrangi lautan yang berombak dengan kapal kayu.  Tanpa terasa, selama ±20 menit di atas hamparan laut biru dan gelombang yang membuat hati dag dig dug, kapal yang kami tumpangi akhirnya berlabuh di tempat tujuan. Satu persatu penumpang pun menuruni kapal yang bersandar di pelabuhan Togolobe Hiri. Di sana, tepat di depan penglihatan kami terhampar pemandangan gunung Ternate nan hijau, langit cerah dan lautan biru yang memanjakan mata. Sungguh sebuah sambutan alam yang manis~

Sampai ke pelabuhan togolobe Hiri

Gunung Gamalama dan Langit biru

Di sekitar pelabuhan, kami berteduh dekat sebuah rumah makan dan beristirahat sejenak sembari menunggu kendaraan yang akan mengantar kami ke tempat workshop, sementara beberapa teman lainnya ada yang sudah lebih dulu menuju lokasi menggunakan motor. Tak berselang lama, sebuah mobil pick up pun datang dan berhenti di bahu jalan. Aku, Gina, Dina serta teman lainnya segera melompat ke atas mobil dan cusss, berangkat! Mobil tumpangan kami melaju meninggalkan Togolobe menuju Kelurahan Mado. Dalam perjalanan, suara musik dari mobil membuat suasana siang itu menjadi ramai; ada yang mengobrol, ada yang sibuk membidik gambar, ada yang khusyuk mendengarkan lagu dan ada yang menyetir. Kami melewati rumah-rumah warga yang jaraknya tidak jauh dari pantai; pemandangan alam dan hembusan angin laut saat itu setidaknya bisa membuat hati kami sedikit tenang meski cuaca sedang panas-panasnya. Tidak sampai 10 menit, kami semua pun tiba di tempat tujuan. Spanduk yang telah terpasang dan beberapa orang (pemuda-pemudi Hiri, dll) yang telah menempati tempat duduk masing-masing menandakan bahwa workshop akan dimulai.

Long story short, pada kegiatan tersebut, kakak-kakak dari Jarkot menjelaskan perihal tujuan diadakannya workshop di pulau Hiri; bahwasannya kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian dari beberapa item Event Bulan Foto. Salah satu tujuannya adalah untuk memperkenalkan dan mempromosikan potensi pariwisata melalui fotografi. Dengan adanya workshop ini diharapkan dapat mengembangkan sekaligus membangkitkan minat pemuda-pemudi Hiri dalam mendalami dunia fotografi yang nantinya dapat berdampak pada kepekaan masyarakat dalam melihat segala potensi keindahan dan keunikan dari lingkungan sekitar mereka sendiri sehingga potensi dan promosinya dapat dijaga dan dikelola oleh masyarakat. Beberapa saat setelah itu, kami semua kemudian dibagi dalam empat kelompok kecil guna membincangkan perihal fotografi dll. Saat itu, aku dan beberapa teman dari Komunitas Blogger Malut diminta untuk sedikit berbagi tentang bagaimana cara menceritakan sebuah foto melalui tulisan kepada teman-teman, aku sebenarnya bingung harus menyampaikan apa, tapi sebisa mungkin aku mencoba untuk sharing apa yang kutahu, untungnya ada Kak Arif yang ikut membantu menjelaskan. Hehe 

Jaringan Komunitas Kota Ternate

Pemuda dan pemudi di pulau Hiri

Dalam diskusi kelompok tersebut; ada banyak hal yang dibahas, yaitu seperti bagaimana mendapatkan foto yang bagus dengan hanya berbekal kamera handphone, kemudian tentang aplikasi memotret, editing hingga ke caption dan blog. Diskusi itu pun berujung pada akhir yang menyenangkan;“Yuk kita langsung hunting foto!”.  Yuhuuu... I was super excited! Lokasi yang akan dijadikan tempat berburu foto kami adalah Pantai Tamajiko yang terkenal dengan gerbang batu atau yang disebut Gurabala oleh warga. Untuk menuju ke sana, kami masih menggunakan mobil pick up yang tadi mengantarkan kami, perjalanannya memakan waktu kurang lebih 20 menit. For your information, semakin dekat dengan pantai Tomajiko, semakin menghilanglah pula koneksi internet di sana, jadi bagi kalian yang ingin membagikan momen di story Instagram atau sosial media lain pada saat itu juga, mohon bersabar sampai kalian kembali ke pelabuhan atau rumah masing-masing.     Tiba di Desa Tomajiko, kami masih melewati jalan setapak dan beberapa rumah untuk mencapai pantai, selanjutnya saat sampai ke gerbang menuju pantai, kami juga disambut oleh pohon capilong (nyamplung) yang berjejer dan jalur setapak yang dihiasi kerikil berwarna putih.

Laut Hiri dan Gurabala, Gerbang batu raksasa

Menikmati ombak dan hembusan angin di pulau Hiri

Komunitas Blogger Ternate berada di Pulau Hiri; Gurabala

Tiba di pantai, hembusan angin yang kencang rupanya menjadi penanda bahwa cuaca sore itu sedang tidak berpihak pada kami, meski begitu hal tersebut tidak menyurutkan antusiasme teman-teman yang datang dalam mencekrak-cekrek pemandangan di sekeliling. Semua orang di sana terlihat sibuk dengan kamera masing-masing, aku yang hanya berbekal kamera handphone pun tak kalah sibuknya. Sibuk membetulkan jilbab yang berantakan dan seakan-akan mau terbang karena  kondisi angin yang cukup kencang, untung aja engga beneran terbang. Kalau beneran, aku udah sampe rumah duluan kali ya?! hmm.

Matahari perlahan tenggelam, menandakan bahwa hari sudah semakin sore. Penampakkan langit yang mulai menguning lantas membuat pemandangan di sekitar Gurabala menjadi semakin aduhai dipandang. Menurut cerita, nama Gurabala sendiri diambil dari kata gura yang artinya taman dan bala yang artinya bangkit dalam Bahasa Hiri. Konon katanya, bongkahan batu besar yang berbentuk gerbang itu dulunya pernah menyatu dengan tebing yang berada di dekatnya, namun bongkahan batu tersebut kemudian terpisah karena terjadinya erosi laut yang berlangsung dalam kurun waktu lama.

Ketika berada di sana, sebenarnya masih banyak view lainnya yang sangat keren bila diabadikan ke dalam gambar, sayangnya karena batre yang mulai sekarat dan angin yang kencang, aku tidak meneruskan niat untuk menelusuri tempat lain di sekitar Gurabala, jadilah hasilnya tidak banyak foto yang dijepret dengan kamera hapeku sendiri, selain itu aku juga baru sadar kalau aku tidak sempat berswafoto menggunakan hapeku sendiri, so I don't have my own pic there. Syedih. 

Ombak dan pantai di Tomajiko Hiri

Hiri dan Komunitas Blogger
                                        
Sahabat dan Senja di pulau Hiri

Tak terasa langit sudah mulai gelap, itu berarti sudah waktunya kami untuk meninggalkan pantai. Untuk dapat kembali ke pelabuhan, kami masih harus menunggu mobil pick up untuk datang menjemput dikarenakan transportasi di Hiri yang tidak banyak, apa lagi bila hari sudah mulai gelap. Dari pantai menuju ke jalan, kami sempat berjalan beberapa meter untuk menempuh rumah salah seorang teman yang kebetulan berdekatan dengan mushola, jadi kami bisa sholat, cuci muka, dll di sana. Sebelum mobil yang ditunggu tiba, kami juga sempat makan di rumah salah satu warga yang baru saja melakukan pengajian. Sungguh! Baik sekali, aku kenyang.

Singkat cerita, setelah beberapa puluh menit menempuh perjalanan ke pelabuhan, kami akhirnya dapat kembali lagi ke Ternate; menyebrangi lautan menggunakan kapal kayu. Dalam perjalanan, Kak Arif sempat mengatakan bahwa kami akan kembali lagi ke Hiri untuk kegiatan lainnya. Wah! Akhir kata, terima kasih untuk Kak Arif dan teman-teman dari Jarkot yang sudah mengajak kami ke Hiri, semoga kedepannya aku dan teman blogger Ternate lainnya masih tetap diajak ikut serta dalam kegiatan Jarkot ya. Hehe, syukur dofu-dofu~

***
Sumber foto :
- Dokumentasi Pribadi
- Facebook

Akhir dari Hiatus dan Ngampus

Akhir dari Hiatus dan Ngampus

Memulai sebuah tulisan memang selalu menjadi hal sulit untuk dilakukan bagi kebanyakan orang, termasuk aku, namun ketimbang memulai  tulisan ini dengan beberapa kalimat penyesalan perihal hiatusnya aku dari dunia blogging, ada baiknya bila tulisan ini diawali dengan ucapan syukur karena penulisnya telah berhasil keluar dari lembah kemalasan dan bisa kembali mengupdate blog dengan gaya tulisan yang seperti biasa; curhat! Alhamdulillah, welcome back, Novi!

Rasanya sudah hampir lima bulan lebih telah kulewatkan dengan banyak cerita yang tidak sempat ditempatkan di posisi terbaca; perihal komunitas blogger di daerahku, perihal urusan kampus, skripsi, target wisuda bahkan sampai dengan momen wisuda itu sendiri. Ah banyak! Selain itu, selama hiatus, aku seringkali mendapati pertanyaan dari beberapa  teman tentang blog ini, seperti “Novi, kapan nulis  lagi?” atau “Novi, kok blognya belum diupdate?” atau “Neng, sekarang udah bulan Maret, lho! Katanya mau updet blog, tapi kok gak ada?” Duh. Terima kasih untuk kalian yang selalu menanyakan, sekarang aku udah updet nih. Yuhuu

Seperti yang sudah kukatakan di atas, salah satu alasanku meliburkan diri dari blog adalah karena disibukkan  dengan skripsi yang maha agung atas segala revisinya.  Skripsi seakan menjadi  ‘hutang’  yang  harus ditebus oleh mahasiswa semester akhir, terlebih lagi bila berada di lingkungan yang cukup ambisius dan kompetitif, pertanyaan “Gimana skripsi?” atau “Udah BAB  berapa?” juga juga tak pernah absen dari telinga, sebab itulah beberapa kegiatan pun ditunda untuk sementara waktu demi menyelesaikan tugas akhir tersebut. Yah, meskipun sebenarnya aku tidak seratus persen menggunakan seluruh  waktu ‘lima bulan lebih’-ku untuk mengerjakan skripsi sih, sebab setengah dari waktu tersebut kugunakan untuk mengasihani diri yang dikit-dikit merasa lelah dan stress.

Untunglah, saat itu nasib baik sedang berpihak padaku sehingga semuanya bisa diselesaikan sesuai rencana dan sesuai waktu yang ditargetkan. Alhamdulillah, wisuda. Ehehe

Wisuda Unkhair 2018

Setelah melewati momen wisuda beberapa bulan lalu, tentu banyak ucapan selamat yang kudapati, termasuk  ucapan “Selamat datang di dunia nyata, selamat menganggur, Nov!” dan hal tersebut memang benar adanya.Faktanya, satu hari sesudah wisuda, aku bangun tidur dalam keadaan bahagia tanpa beban,  namun satu bulan kemudian, aku justru bangun tidur dalam keadaan mikir mau jadi apaan, hmm. Ketahuilah manteman, bahwasannya euforia wisuda itu sama seperti momen kebersamaan bersama mantan kekasih di masa lalu; bahagia beberapa saat, kemudian galau setelahnya, entah galau karena kangen atau galau karena pusing mencari pengganti. Gak juga sih, tapi ya, begitu.


Btw, meski telah berhasil melewati fase kritis dan lika-liku menjadi seorang wisudawati. Aku yang pernah berikrar untuk mengupdate blog usai skripsi justru menjadi kesulitan untuk kembali menulis, terlalu lama vakum nyatanya memberikan efek yang kurang baik bagi diri sendiri, aku menjadi kehilangan ritme dan sulit berkonsetrasi, alhasil setiap kali menyalakan laptop, yang bisa kulakukan hanyalah merenung  sambil sesekali menekan keyboard, kemudian kembali menutup laptop dengan hanya menyelesaikan satu dua patah kata, itu pun ketik-hapus-ketik-hapus. Hahahahahahaha krik.

Tapi, kabar baik lainnya, di saat sedang dalam proses mengumpulkan mood menulis, dunia maya yang fana ini rupanya tengah berbaik hati mempertemukanku dengan dua teman di salah satu situs jejaring sosial facebook. Kedua teman tersebut sangat membantuku; mulai dari memotivasiku untuk kembali menulis sampai dengan repot-repot mencarikan solusi untuk masalah template blog ini, dan tadaaaaaaa... Sampai sekarang, rasanya bahagia syekali melihat header blogku sudah jadi rensponsive dan tidak bergeser kanan, geser kiri lagi. Uhuy.

Terima kasih banyak! Senang bisa berkenalan dengan kalian, semoga kedepannya kita bisa tetap tenggelam dalam percakapan-percakapan ihwal blog dan topik random lainnya  ya!       Selain dari itu, setelah mengobrol dengan dua teman tersebut, motivasiku untuk kembali menulis perlahan semakin kuat, bagaimana tidak bila mereka rupanya tanpa kusangka telah menulis tentang ini dan ini di blog masing-masing? Terharu, it means the world to me, jadi gapapa ya ngucapin makasih lagi? Hehehehehe, terima kasih banyak, kalian baik hati sekali.

Oh iya, berhubung karena ini tulisan curhat pertama  di tahun 2018, mohon dimaklumi apabila tulisan ini terkesan canggung(?). Dan sebagai pengingat agar aku bisa tetap konsisten menulis, kurasa tidak ada salahnya bila aku memberitahukan dari sekarang ihwal topik yang diposting di kemudian hari di blog ini yaitu tentang Komunitas Blogger Maluku Utara yang dibentuk akhir tahun 2017 lalu. Semoga lekas terlaksana, sekian~


Sumber foto :
- Pixabay
- Dokumentasi Pribadi