Perihal Orang-Orang Yang Ditemui


Kalau ditanya tentang apa saja hal misterius yang ada dalam hidup setiap orang, aku rasa Pertemuan dan Perpisahan adalah dua hal yang termasuk di dalamnya.  Di suatu waktu, kita mungkin tidak pernah menduga dengan siapa kita akan bertemu, siapa yang akan tetap tinggal dan siapa yang hanya singgah sebentar di hidup kita. Lalu, di suatu waktu pula, kita juga tidak akan bisa menebak dengan siapa, seperti apa dan di mana perpisahan yang akan kita hadapi di kemudian hari. Benar kan?

Barangkali saat ini ada beberapa di antara kita yang baru saja berpisah dengan seorang yang sempat membuat jatuh cinta pun terluka, tapi siapa sangka, beberapa bulan, hari atau bahkan beberapa jam ke depan kita akan dipertemukan dengan seseorang yang dapat menyembuhkan luka tersebut. Who knows? Bukankah pertemuan adalah sesuatu yang tak terduga? Meski begitu, aku percaya bahwa segala sesuatu tidak terjadi begitu saja     bahwa selalu ada hikmah dan alasan dibalik setiap pertemuan maupun perpisahan.

Kedua hal tersebut tentu merupakan  rahasia yang telah diatur dan dijadwalkan dengan rapi oleh Tuhan. Kita sebagai manusia mungkin  bisa menyiasati pertemuan tapi Tuhan lebih tahu waktu yang tepat untuk mempertemukan. Lalu, sejauh ini, sudah berapa banyak orang yang kita temui? Siapa yang akan kita temui setelah ini? Berikut adalah berbagai jenis orang yang [mungkin] pernah dan [mungkin juga] akan kita temui di waktu yang akan datang.

ORANG YANG MEMBERI BANYAK MANFAAT BAGI HIDUP KITA

Tanpa disadari atau pun disadari, terkadang kehadiran seseorang dapat mengubah kehidupan kita. Mungkin orang tersebut adalah teman masa sekolah yang entah di mana keberadaannya sekarang. Atau seorang kenalan lama yang kabarnya tak kunjung singgah di telinga. Bahkan bisa juga teman yang hanya pernah bertemu dengan kita di dunia maya. Siapapun itu, mereka bisa memberi manfaat besar pada hidup kita.

Entah memberi bantuan, menolong saat kesulitan, memberi pelajaran berharga tentang kehidupan, membagi pengetahuan baru, menawarkan peluang untuk menggapai mimpi di masa depan atau bahkan menjalin hubungan hingga ke pelaminan.

Orang-orang yang dimaksud ini barangkali telah ada di sekitar kita, hanya saja belum tahu siapa. Atau bisa saja, orang-orang itu kini tengah berjalan menuju ke hidup kita. Yang penting, kita bisa selalu membuka diri agar kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang tersebut dapat menghampiri~

ORANG YANG SEMPAT MEMBUAT JATUH  HATI  KEMUDIAN TERLUKA

Ada yang pernah bilang kalau kita berani jatuh cinta, berarti kita harus berani patah hati juga. Seringkali rasa cinta yang terlalu dalam pada seseorang membuat kita tersakiti sangat dalam pula. Kadangkala kita bisa berubah menjadi lemah di depan orang tersebut. Saat dia menyakiti, mungkin kita akan membelanya dengan berbagai pembenaran. Membiarkan hati dihantam berulang kali hingga babak belur dan mengatakan “I will love you like I’ve never been hurt” pada orang yang dicintanya. 

Aku teringat akan sebuah kutipan dalam Novel Garis waktu karya Fiersa Besari : “Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya. Kemudian, satu orang tersebut akan menjadi bagian terbesar dalam agendamu. Dan hatimu takkan memberikan pilihan apapun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata bahwa resiko dari jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa.”

Namun seperti yang kukatakan di awal tulisan ini, bahwa segala sesuatu tidak terjadi begitu saja, sebab selalu ada alasan dan pelajaran yang terselip dibaliknya. Jatuh cinta dan patah hati akan membuat kita [belajar] menjadi lebih dewasa. Iya gak sih?

ORANG YANG MENINGGALKAN BANYAK KESAN MESKI HANYA BERTEMU SEBENTAR

Pertemuan kadang berlangsung begitu cepat. Entah saat bertemu di suatu acara, saat berpapasan di sebuah toko buku, tempat wisata dan di mana pun itu. Mereka yang ditemui dalam jangka waktu singkat, terkadang meninggalkan kesan yang berkepanjangan, sebab kuantitas memang tak selalu menentukan kualitas. Misalnya saja seseorang yang pernah berkenalan denganku di suatu acara seminar. Aku masih ingat, namanya Kak Ida. Saat itu beliau merupakan seorang Mahasiswi dan aku sendiri adalah seorang siswi SMK. Sepanjang diskusi,  Kak Ida tak segan untuk membagi pengetahuan dan pengalamannya. Yang membuatku kagum adalah senyumnya yang selalu awet di wajah dan cara berbicaranya yang tidak terkesan menggurui, meremehkan atau semacamnya. Kak Ida mengobrol denganku seakan kami adalah teman, sehingga aku sempat berpikir “Seandainya semua orang asing yang ingin kuajak berbicang bisa seramah ini, rasanya aku tidak perlu ragu untuk memulai pembicaraan dengan orang baru. wkwk”.        Siapapun pasti akan senang bila berkenalan dengan seorang yang dapat menebar aura postif ke diri mereka bukan? Oleh karena itulah, aku ingin bertemu dengan orang yang seperti ini lagi di kemudian hari.~

ORANG YANG SANGAT DEKAT DAN SELALU ADA JUGA BISA PERGI BEGITU SAJA

Ada pepatah yang mengatakan bahwa selalu ada perpisahan setelah pertemuan, walau hal tersebut kadang tak disukai tapi tetap saja akan terjadi. Nothing last forever. Beberapa di antara kita pasti pernah memiliki teman yang dulunya akrab, teman sebangku, sahabat erat di sekolah, lalu setelah lulus, keakraban tersebut pun memudar dengan sendirinya. Kita mulai kesulitan untuk menemui teman tersebut. Kesibukan yang ada membuat jarak kian melebar. Akhirnya mereka yang dianggap selalu ada pun menghilang, atau jangan-jangan kita yang pergi dan tak lagi meluangkan waktu untuk sekadar menyapa? Entahlah. Contoh lain adalah tentang dia yang pernah mengisi relung hati. Dulunya pacar, eh sekarang sudah jadi mantan. Yang dulu selalu berada di samping, eh sekarang malah jadi yang paling jauh. Menjadi asing dan terlupakan. People come and go~

ORANG YANG ENTAH SIAPA, MUNGKIN BERHARAP BERTEMU DENGAN KITA

Masih ada banyak sekali orang yang belum kita temui dan berharap untuk bertemu dengan kita. Barangkali mereka adalah orang yang sudah lama mengenal kita di dunia maya. Barangkali mereka adalah orang yang rajin membaca tulisan dan memandang hasil jepreten kita di internet.  Who knows?  Sebab faktanya aku adalah salah satu orang yang berharap dapat bertemu dengan beberapa orang yang hanya kukenali di dunia maya. Berharap bertemu dengan mereka yang sering mengobrol denganku di jejaring sosial. Berharap bertemu dengan beberapa blogger yang sering aku kunjungi blognya. Mungkin kamu salah satunya.

Sampai pada paragraf ini, sebuah pertanyaan tetiba hinggap di kepalaku. Adakah orang di luar sana yang juga berharap bertemu denganku? Ehem. Kalau ada, semoga Tuhan memberi kita kesempatan untuk bertemu dan mengobrol ya.~ 


***
Gambar asli : Pinterest

Memangnya Kenapa Kalau Curhat?


Aku punya satu kebiasaan, aku suka membaca postingan lama di blogku. Meski sudah hampir sebulan tidak menulis apapun di blog, bukan berarti blog ini kubiarkan ‘terkapar’ begitu saja, sebab faktanya aku masih rajin membuka arsip lama dan membaca ulang beberapa tulisan.  Membaca kembali tulisan-tulisan tersebut membuatku teringat pada orang-orang di dunia nyata yang pernah mampir ke sini. Beberapa di antara mereka menganggap tulisan di blogku adalah curhatan seorang perempuan galau. Bahkan ada yang berkomentar seperti ini “Blog kok isinya curhat mulu. Gak malu nih? Gak ada yang lain yang bisa ditulis?”  

Memangnya kenapa kalau curhat? Lagi pula aku tidak pernah malu menulis isi hati dan pemikiranku ke blog, selama yang kutulis merupakan sesuatu yang pantas dibaca oleh orang lain, menurutku itu bukan masalah. Aku justru merasa bahagia karena bisa menuangkannya ke dalam bentuk tulisan, rasa bahagia tersebut semakin bertambah saat tulisanku dapat menjadi pengingat di masa yang akan datang, menjadi pembelajaran untuk kedepannya dan bisa menjadi refleksi bagi kehidupan orang lain. Jadi kalau mau bilang malu, mungkin yang sering berkomentar dengan nada mengejek yang harus malu, kali ya.

Jujur saja, ketika orang lain menganggap tulisan semacam ini sebagai curhatan, aku justru menggangapnya sebagai bentuk kontemplasi diri. Menurut KBBI, kontemplasi berarti renungan dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh. Kontemplasi merupakan cara untuk memikirkan secara mendalam tentang apa-apa yang akan dan telah dilakukan, jadi saat kita menulis hal-hal yang riuh di ruang kepala berarti kita juga sedang mencoba memahami dan merenungi keadaan, bukan begitu? Itu artinya, menulis adalah media kontemplasi yang efektif dalam hal melakukan evaluasi diri, evaluasi masa lalu dan merancang target masa depan. Therefore, menulis adalah cara untuk mengenali diri lebih baik lagi.

Perihal blog yang isinya curhatan dan cerita-cerita tentang si pemilik blog, kurasa orang-orang tengah berpikir bahwa menulis tentang keadaan atau kehidupan pribadi di sebuah platform yang dapat diakses oleh banyak orang berarti membagi rahasia diri ke orang lain, berbeda kalau curhat ke sahabat atau di buku diary yang digembok, semua cerita akan terjaga kerahasiaannya! Padahal sih kenyataannya bukan seperti itu. Entah seperti apa definisi curhat yang dipikirkan oleh orang-orang.

Kalau ditelusuri lebih jauh, Curhat  merupakan akronim dari Curahan hati, yang bermakna mengungkapkan isi hati atau cerita pribadi kepada orang terdekat secara langsung dengan harapan agar orang yang mendengarkan dapat memberikan solusi, memotivasi, atau si pen-curhat hanya sekadar ingin berbagi cerita untuk menghilangkan beban pikiran dan hati, bukankah hal tersebut terdengar positif?  Seiring berkembangnya zaman, makna curhat mulai berubah menjadi sesuatu yang negatif dikarenakan curhat telah dapat dilakukan di internet yang luas nan bebas ini dalam berbagai bentuk.

( Baca Juga : Realita (dan) Dunia Maya )

Defini “Curhat” seolah bertransformasi dari “Pelepas beban pikiran” menjadi “Ajang menunjukkan diri” sehingga pandangan orang-orang terutama para Nitizen pada blog yang berisi cerita dan pengalaman pribadi pun menjadi miring. Orang-orang tak lagi melihat sebuah cerita atau tulisan di blog sebagai sarana pembelajaran, dan hiburan,tapi sebagai tempat manusia egois yang hanya ingin berbicara tentang diri mereka sendiri. Padahal pandangan seperti ini merupakan sesuatu yang salah. 

WHY DO PEOPLE MOSTLY JUDGE THINGS ONLY FROM ONE SIDE? THE NEGATIVE SIDE? DUH

Tidakkah orang-orang berpikir bahwa blog yang berisi tentang pengalaman pribadi atau semacamnya merupakan cara penulis untuk mengurangi beban pikiran atau pun sekadar berbagi cerita yang mungkin bisa menjadi pengingat dan pembelajaran bagi diri sendiri maupun bagi orang lain?  Seperti yang kukatakan sebelumnya bahwa menulis adalah sebuah bentuk kontemplasi diri. Aku menulis karena memang isi kepalaku perlu untuk dituliskan, toh tujuan utama aku menulis adalah untuk menenangkan hati dan  membahagiakan diri. Menulis bagiku adalah terapi, kalau pun nanti ada yang membaca lalu terkesan dan terinspirasi, bukankah itu adalah sebuah bonus yang akan menambah tingkat kebahagiaan yang ada? Belum-belum lagi bila blog tersebut dapat menjadi ladang rezeki. Uww~

Bagi mereka yang gemar menjudge segala sesuatu dari sisi negatif, pasti akan mengatakan “Yah! Curhat lagi! Galau lagi!” kerjanya menyinyir padahal mereka sendiri sedang kebingungan mencari cara curhat yang aduhai di zaman yang serba canggih ini. Biar kuberitahu; curhat lewat tulisan adalah salah satu cara yang aduhai, bikin puisi atau sebuah cerita pendek dari kisah pribadi, kalau ada yang tanya itu cerita nyata atau fiksi, bilang saja, itu fiksi. Aman kan?

Intinya sih, menulis pengalaman dan kehidupan pribadi alias curhat boleh-boleh saja, tapi menyaring mana yang layak dan mana yang tidak layak disharing ke publik adalah suatu keharusan. You know what I mean, right?

13 Lessons That I Got From ”13 Reasons Why”


Berbicara tentang filem, drama atau kisah hidup seseorang, kita pasti tidak akan lepas dari pesan-pesan yang terdapat pada film, drama, atau kisah tersebut, oleh sebab itulah, aku yang kebetulan baru saja selesai menonton sebuah serial, berkeinginan untuk berbagi pendapat dan pesan yang kutangkap dari serial tersebut. Serial drama yang kumaksud ini sempat menjadi hot-topik di sosial media, yang rajin berkelana di dunia maya pasti bisa menebaknya. Serial tersebut berjudul  “Thirteen Reasons Why”

[ Warning :  SPOILER ELERT! ]

13RW merupakan serial drama garapan Netflix yang diadaptasi dari novel Thirteen Reasons Why karya Jay Asher yang diterbitkan pada tahun 2007 lalu.  Serial ini bercerita tentang kehidupan seorang gadis remaja bernama Hannah Baker, sebelum bunuh diri. Hannah meninggalkan 7 kaset dengan 13 sisi yang isinya merupakan reakaman suara dan alasan Hannah mengakhiri hidupnya. Setiap kaset menceritakan tentang 13 tokoh yang mempunyai pengaruh bagi kehidupan Hannah, salah satunya adalah Clay Jansen, seorang pria yang sangat terpukul dengan kematian Hannah dan berusaha mengungkap kebenaran dari tujuh buah kaset tersebut.

Setelah menonton semua episode hingga selesai, aku akhirnya mengerti mengapa serial ini mendapat rating yang tinggi di IMDb. Plot cerita yang menarik dan akting setiap tokoh yang natural membuat film ini cukup mampu mengaduk emosi penontonnya, aku sendiri bahkan merasa ‘campur aduk’. Marah, sedih, senang, terharu, terluka, dan lain sebagainya. Di samping dari itu, serial film ini juga memiliki banyak pesan moral yang tersirat, setidaknya ada beberapa yang kutangkap seperti poin-poin berikut ini :

1. Bullying Bisa Terjadi Kepada Siapa Saja.
Sebelum menonton 13RW, aku sempat membaca beberapa review di internet, salah satunya adalah review dari Icha Hairunnisa yang mengatakan bahwa Bullying bisa terjadi kepada siapa bahkan kepada gadis secantik, seramah dan selucu Hannah Baker. Aku setuju! Pertama kali melihat Hannah, aku melihatnya sebagai seorang remaja biasa yang tidak mungkin menjadi target bully. Penampilannya terlihat keren dan cerdas. Kurasa dia juga cukup pandai menempatkan diri di antara teman-temannya, but who knows? setelah melahap satu-demi-satu episode, aku pun sadar bahwa bullying dapat terjadi kepada siapa saja, aku bisa melihat sendiri, Hannah bukanlah satu-satunya orang yang menjadi bully-victims. Tyler, Alex, Clay, dan tokoh lainnya pun termasuk korban bullying.

2. Don’t Trust People Easily

Jujur saja, setelah melihat apa yang dilakukan Justin kepada Hannah, atau Courtney kepada Hannah, dll. Aku langsung berpikir untuk tidak secepat itu percaya kepada orang. Di sini aku melihat Hannah sebagai seorang yang sangat cepat menaruh kepercayaan kepada orang lain, sayangnya tidak semua orang yang dipercaya dapat menjaga kepercayaan tersebut, so please be careful, ya! Some people takes the trustiness for granted~

3.  Sexism and Sexual Harrasment Is A Serious Thing
Aku berharap orang-orang yang sudah menonton serial ini dapat menyadari bahwa seksis, rape jokes, dan segala bentuk jokes yang mengobjektifikasi tubuh seseorang bukanlah sesuatu yang lucu dan wajar! Beberapa orang mungkin berpikir untuk tidak terlalu menyeriusi jokes tersebut, but hell yaaaa! Kita tidak pernah tahu isi hati seseorang. Seperti kata pepatah  “Dalamnya lautan bisa diukur tapi dalamnya hati, siapa yang tahu?” Percayalah, humor semacam itu bisa membuat orang kehilangan kepercayaan diri, membuat orang merasa tidak dihargai dan yang paling parah, secara tidak sadar, hal tersebut dapat menyakiti hati orang. 

Dalam hal ini, Hannah menyebutnya “Butterfly effect” sesuatu yang remeh bagi orang lain, bisa saja berpengaruh besar bagi kehidupan orang lain pula. Betapa jahatnya orang-orang yang langsung melabeli Hannah sebagai slut, whore, easy girl, etc ‘hanya karena sebuah rumor’. Kita juga bisa lihat sendiri, dari covernya, Hannah bersikap “bodo amat” tapi kenyataannya? It hurts her feelings. It is even one of the reason of why her life ended, jadi jangan anggap remeh sexist jokes ya, gaes!

4. Parents Play an Important Role in Shaping Adolescent’s Behavior
Menurutku 13RW tidak semata-mata hanya menggambarkan kehidupan anak remaja dan kehidupan di sekolah mereka, tetapi juga menggambarkan sikap orang tua dalam  mendidik dan mengawasi anaknya. Serial ini bisa menjadi refleksi tentang betapa pentingnya peranan orang tua dalam mendidik dan membentuk perilaku anak  [remaja]. Coba lihat, bagaimana kehidupan seorang Bryce Walker, does his parents know about their son attitude to other people especially to women? Yang paling parah, Bryce tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang buruk, dia bahkan tidak merasa bersalah atas tindakannya. Dear parents, your kids need your attention.

5. Everyone Has Their Own Problems!
Terkadang saat ditimpa masalah, kita selalu merasa sebagai seorang yang paling menderita, kita merasa menjadi orang yang paling menyedihkan, kita iri pada kehidupan orang lain yang terlihat bahagia, padahal sebenarnya “Nobody has perfect life”.  Kita tidak tahu bahwa seorang Justin Foley yang populer ternyata memiliki keluarga yang tidak bahagia. Kita tidak tahu bagaimana kehidupan seorang Skye yang pernah melalukan suicide. Kita tidak tahu apa yang terjadi di kehidupan Alex sehingga ia memutuskan untuk menembak dirinya sendiri. Kita juga tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh Tyler. Kalau kata Hannah “You don’t know what goes on in anyone’s life but your own.”

6.  Don’t Judge People By Its Cover
Aku rasa poin sebelumnya sudah mewakili poin yang satu ini, but let me talk about it. Tyler pernah mengatakan pada Clay bahwa setiap orang yang difoto olehnya tidak benar-benar memperlihatkan wajah asli mereka, they smile but they fake it. Most of them are wearing mask. Aku sih sepakat. Kita tidak benar-benar tahu kehidupan seseorang, rasanya tidak adil kalau secepat itu menjudge seseorang hanya karna penampilan fisik atau karena gosip dan omongan orang lain yang belum terbukti kebenarannya. Kita sendiri pernah berada dalam situasi seperti itu bukan? So yeah, stop judging people without knowing the truth.

7. Why is it hard to be honest?
Ehe, kok malah jadi bertanya sendiri ya? Jadi begini, poin yang satu ini aku tulis karena dalam serial 13RW terutama pada saat Hannah menceritakan tentang tindakan Sheri yang melarikan diri setelah menabrak rambu lalu lintas. Aku berpikir bahwa kejujuran memang sesuatu yang sangat susah untuk diungkapkan, apalagi bila itu berhubungan dengan kejelekan, kekurangan, atau kesalahan diri sendiri. Iya gak sih? Hal tersebut tentu saja bukan tanpa alasan, seperti yang dikatakan Hannah “Some people are mean and that is how they get popular” demi menjaga reputasi diri atau demi terhindar dari masalah, mereka bisa dengan gampangnya menyebarkan berita hoax atau menyebarkan aib orang lain demi untuk menutupi aib sendiri. Is it fair huh? Hal ini masih berhubungan dengan teori butterfly effect, kita tidak pernah tahu bagaimana sebuah kejujuran/kebohongan, sekecil apapun itu, bisa berpengaruh besar bagi kehidupan orang lain dan bagi kehidupan diri sendiri, tentunya.

8.  Be Selective
Maafkan kalau di sini aku mengatakan bahwa memilah-milih teman adalah suatu keharusan. Dalam hal ini bukan berarti menjauhkan diri dari orang-orang ya. Maksudku, tidak ada salahnya untuk menjadi selektif dalam ‘memilih teman dekat’. Karena menurut sebuah penelitian yang dilakukan majalah Forbes: “Friends can impact not just the quality of our life, but also, the length of it”. Indeed! Kalau menurutku sih, bertemanlah dengan orang yang memberikan pengaruh baik dan positif pada diri kita, yang menerima kita apa adanya, bukan karena kita atau mereka berduit dan populer. Coba lihat Justin Foley atau Alex Standal, are they really comfortable with that kind of friendship huh? Intinya sih, try to surround yourself with people who love you, ya. (If you didn’t find one, contact me! Eh)

9. Suicide Is Selfish
Salah satu alasan yang membuat 13RW menjadi kontroversi adalah karena serial ini dianggap berpontensi membuat remaja lainnya melakukan hal yang sama seperti yang Hannah lakukan, padahal bila dilihat dari sisi lain, menurutku serial ini mencoba menggambarkan bahwa bunuh diri bukanlah pilihan yang tepat, serial ini mencoba menyampaikan kepada orang-orang untuk berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu, terlebih lagi bila itu membahayakan diri sendiri. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu, bagaimana perasaan orang-orang terdekat nantinya? bagaimana perasaan orang tua kita? Perubahan penampilan Mrs.Olivia Baker sudah tentu menjawab pertanyaanku, bukan? She doesn’t care about her make up anymore, anyway. That black circle under her eyes. Sad eyes. Huhu~

10. Stop Victim-Blaming And Start To Introspect Yourself Ya, Peeps!
Victims-Blaming adalah sesuatu yang lumrah dalam masyarakat dan hal tersebut pun  digambarkan melalui serial 13RW. Semua menyalahkan Hannah atas tindakan bunuh dirinya, mengatakan bahwa Hannah adalah attention seeker setelah apa yang dilaluinya     Atau pada adegan ketika Hannah diperkosa oleh Bryce, adakah yang langsung menyalahkan Hannah karena tidak melakukan perlawanan? Ah, Mr.Porter.  Beliau bahkan meminta Hannah untuk move-on setelah semua yang diceritakan Hannah. Like seriously? Hannah just got raped and sought for a help but then you asked her to move on. Seriously?


11. Be Brave To Speak Out Your Feelings and Thoughts
Jangan takut untuk mengungkapkan pemikiran dan perasaan kita, sebab tidak selamanya segala sesuatu dipendam sendirian. Hal tersebut tentu saja berlaku saat kita merasa tidak nyaman dengan perlakuan seseorang. Saat seseorang mengatakan ataupun melakukan sesuatu yang menyakiti diri kita, beranilah untuk mengatakan apa yang dirasakan. Jangan membiarkan orang lain terus-terusan menjadikan kita sebagai objek, be brave!

12. Be Good to People
Jangan menjadi baik hanya pada orang-orang tertentu. Jangan pula berkata sopan hanya pada orang-orang tertentu lalu tetiba menjadi kasar pada orang lain, lagi pula apa salahnya berbuat baik dan berkata yang baik kepada semua orang, sih? Kita tidak  pernah tahu bila perlakuan kita pada orang lain bisa saja menjadi sesuatu yang bermakna bagi mereka, we never know how a smile can change someone’s day, so let’s learn to treat people the way we would like to be treated.

13. Don’t Let The World Bring You Down

People will say mean things that hurt, but there's God, the one who loves you more than anyone on Earth! 


 ***
P.S :
- Akhirnya, nulis lagi. Ini tulisan review film pertama di blogku btw. Hehe
- Tulisan ini bukan untuk mengguruia, tapi sebagai pengingat, untuk diri sendiri dan siapa saja.
- Maaf kalo bahasanya campur aduk. Duh. 

An Unrepeatable Moment


What is the best moment that you have ever gotten from your blog?

Jika ada yang melontarkan pertanyaan tersebut kepadaku, maka dengan percaya diri aku akan menjawab bahwa salah satu momen terbaik yang aku dapatkan dari blog, terutama saat menulis [di blog] adalah ketika aku berhasil menulis paragraf pembuka tanpa merasa kesulitan, tanpa bingung harus memulai dengan kalimat seperti apa. Aku tahu bahwa aku hanya perlu menulis isi kepala dan hati dengan apa adanya, semua mengalir begitu saja sampai  pada akhirnya aku bisa membaca kembali tulisan tersebut dengan perasaan bahagia karena  segala keresahanku telah tercurahkan tanpa ada kepura-puraan di dalamnya. Sederhana.

Berbicara tentang momen terbaik selama ngeblog, mungkin aku tidak memiliki banyak cerita menarik seperti blogger lainnya.  Aku belum pernah merasakan kopdaran bersama blogger-blogger hits di luar sana, belum pernah menghadiri event-event kece yang selain memberi pengetahuan dan menambah jejaring pertemanan ternyata juga menawarkan doorprize,goodie bag, dll. Alasannya cukup simple, sih, yaitu karena blogger di daerahku terbilang masih sangat minim. Aku memang mendapati beberapa orang yang juga memiliki blog, akan tetapi sebagian besar diantaranya hanya dipakai untuk mempublikasikan tugas sekolah, kuliah, dll. itupun hanya sekali setahun, selain dari itu kutaktahu di mana mereka berada. Aku tidak tahu.

Untungnya, sekitar pertengahan tahun dua ribu enam belas kemarin, secara tetiba aku mendapat sebuah pesan yang cukup membuatku terharu, yap! Seorang ketua Umum UKM Pena di Universitasku menawarkanku untuk ikut berkontribusi menulis cerpen seusai membaca tulisan-tulisan blogku ini. Like seriously? Aku hanya menulis curhatan dan tetiba ditawarkan menulis cerpen? aku sadar bahwa aku sangat payah dalam hal menulis cerpen, tetapi karena kesempatan tidak datang dua kali, aku mengiyakan tawaran tersebut dan memulai menulis cerpen dengan terburu-buru. This can be one of the best moment I’ve ever had although I don’t know whether the story was being accepted or not. Hehe

Beberapa hari setelah kejadian penawaran menulis cerpen tersebut, ternyata ada kejutan lain yang berhasil membuatku terharu, lagi. Salah seorang teman kelasku menyampaikan sebuah pesan bahwa aku diundang oleh Ketua Umum UKM Pena untuk berdiskusi seputaran blog. Tepat di hari H, aku hampir saja tidak menghadiri undangan tersebut dengan alasan tidak bisa keluar di malam Jumat, padahal sebenarnya karena tidak ada kendaraan, untungnya tanpa sepegetahuanku, aku dijemput oleh teman yang tadi menyampaikan pesan mendebarkan itu. Dijemput. MANJA!

Pada diskusi tersebut aku dikenalkan kepada beberapa penulis-penulis dan jurnalis berpengalaman yang juga aktif menulis di blog, selain itu aku yang sebelumnya bingung harus berbicara apa akhirnya mengerti bahwa aku hanya perlu menyengir,  mengangguk dan mendengarkan apa yang menjadi tujuan dari diskusi, bukan karena aku tidak diizinkan bersuara, sih,  tapi karena aku memang masih bingung harus berbicara apa. Orang-orang harusnya tahu kenapa aku lebih suka menulis ketimbang berbicara. Hiks.

Satu hal yang aku tangkap dari diskusi tersebut adalah perihal digagasnya sebuah media menulis dalam bentuk web-blog yang nantinya bisa mewadahi tulisan-tulisan para blogger pun penulis di kota Ternate. Alamat web-blog yang kumaksud bisa dilihat pada gambar di bawah, bukan promosi ya! Di samping dari itu semua, aku senang bisa menjadi bagian dari diskusi tersebut, aku juga senang mengetahui bahwa masih ada orang-orang di dunia nyata yang sering berkujung ke blogku meskipun aku sendiri jarang menebarkan link blogku di mana-mana, dulu.


Tak lama setelah diskusi di malam jumat itu    kalau tidak salah setelah sebulan berlalu    aku mendapat berita perihal lomba menulis blog yang diadakan oleh komunitas Pers liputan kota (Kom-Pelita) dalam rangka Hari Jadi Ternate atau HJT 2016. Tentu saja, dengan senang hati, aku ikut meramaikan lomba tersebut. Awalnya aku mengira aku hanya perlu menulis tentang apa yang kutahu tentang tempat tinggalku, awalnya aku pikir aku hanya perlu duduk manis dan menunggu pengumuman pemenang lewat internet, lewat koran atau lewat apa saja seperti lomba-lomba blog pada umumnya. Tapi aku salah. Aku salah besar!

Lomba blog tersebut ternyata tidak main-main karena apa yang kutulis tentang Aneka Ragam Keunikan Kota Ternate akan dipertanggung-jawabkan nanti di tahap wawancara. Iya! Lomba blog yang digelar khusus untuk yang berdomisili di Ternate ini ternyata mengharuskan peserta lomba untuk menjelaskan maksud dari tulisan mereka, tentang ini-itu dan segala tetek-bengek yang ditulis. Ahasil aku yang awalnya percaya diri langsung merasa minder, bagaimana tidak?  Ngori ne jago ua bicara se mancia dofu     aku tidak pandai berkata-kata di depan banyak orang secara lisan, kalau pakai bahasa isyarat, boleh lah. Hahah, engga ding.

Satu hal yang aku tahu, sepesimis-pesimisnya aku, masih ada orang di luar sana yang percaya bahwa aku  bisa. Akhirnya rencana melarikan diri dari kenyataan pun kubatalkan. Aku ingat betul bagaimana suasana dalam ruang wawancara saat itu, aku dijejali dengan pertanyaan-pertanyaan dari empat orang dewan juri yang sudah berpengalaman di dunia kepenulisan. Rasanya seperti sedang sidang skripsi, padahal sih belum pernah sidang skripi, ehehe. Peserta-peserta lomba lainnya? Jangan ditanya, beberapa dari mereka adalah orang-orang yang sempat mengajakku berdiskusi perihal web-blog kemarin. Hasilnya?  Dari sekian banyak tulisan-tulisan kece yang meramaikan lomba HJT, hanya enam tulisan yang menjadi pemenang dan tulisanku tidak termasuk di dalamnya. Nah loh, lalu apa yang menjadi the best moment kalau aku sendiri tidak menjadi pemenang?  

Jawabannya sederhana; tidak menjadi pemenang bukan berarti tidak mendapat sesuatu yang berarti, sebab di balik semua itu ada hal yang lebih penting dari sekadar meraih kemenangan; yaitu pengalaman yang belum pernah terpikirkan.  Sebelumnya, aku merasa tidak bisa menemukan teman blogger di kota Ternate, tapi kenyataannya? Tulisan blogku sendiri telah mempertemukan aku dengan orang-orang tersebut. Sebelumnya aku berpikir tidak bisa berbicara di depan juri perihal tulisan yang kuperlombakan, tapi kenyataanya? aku berbicara dengan lancar tanpa kendala sebab apa yang benar-benar tertulis dari hati pasti bisa dipertanggungjawabkan dengan lisan pula.

So what I got after all? An unrepeatable moment. A surprise of meeting new people. Getting new knowledge. Experience. And free food, of course. Hal tersebut tentu saja merupakan momen terbaik sepanjang perjalanan aku bergabung dengan dunia keblogggeran. Semoga setelah ini, masih ada momen-moment mendebarkan lainnya. Aamiin


Akhir kata, aku ucapkan, Selamat Ulang Tahun Warung Blogger yang ke-6. Terima kasih telah mengadakan lomba dengan tema yang aduhai, Hahah. Terima kasih juga telah membuatku menggali cerita-cerita lalu yang belum sempat aku tuliskan di blog ini. Semoga jaya selalu. Horayyy~

***
 Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke-6 tahun Warung Blogger


Sumber foto :
- Foto pribadi
- Pinterest
- Facebook (Album foto JalaMalut)
- Warungblogger(dot)org

Perihal Cinta Dunia Maya


Ada dua tipe pasangan yang menjalin hubungan jarak jauh atau lebih dikenal dengan istilah Long Distance Relationship (LDR). Pertama, pasangan LDR yang sudah pernah bertemu dan bertatap muka secara langsung. Kedua, pasangan LDR yang belum pernah bertatap mata namun sudah saling jatuh hati berkat kecanggihan teknologi, hubungan semacam ini dikenal dengan nama cyber love atau digital love.

Saat ini kelihatannya jumlah tipe yang kedua semakin bertambah banyak dibanding tipe pertama, bagaimana tidak? Seiring berkembangnya zaman, terlebih kemajuan di bidang teknologi, informasi dan komunikasi, mendapatkan teman hidup yang jauh di seberang samudera bukanlah hal yang sulit; bermodalkan handphone, sinyal, pulsa dan kemampuan bercakap yang asik, mendapatkan hati lawan jenis bukanlah suatu hal yang mustahil, apalagi bila orang tersebut seringkali gagal dalam percintaan; maka tidak ada salahnya bila menjadikan jejaring sosial sebagai alternatif yang lebih aduhai dalam mencari pasangan.


Meskipun begitu, seorang fakir asmara yang sedang gunda gulana perihal jodoh harus tetap berhati-hati saat mengembara di dunia maya, sebab kita tahu dibalik kebaikan sosial media yang memberikan kemudahan kepada penggunanya dalam berinteraksi,  sosial media pun penuh dengan kepalsuan; ada banyak orang menjelma menjadi malaikat dumay dengan modus-modus tertentu demi mencari keuntungan pribadi, menggunakan foto palsu dan lain sebagainya; untuk itulah diperlukan penyelidikan lebih lanjut mengenai identitas diri lawan jenis yang sedang diajak pedekate. Stalking misalnya.

Berbahagialah bila akun tersebut mempunyai identitas yang jelas dan terpercaya, plus pemiliknya masih berstatus single, apalagi kalau keduanya juga sama-sama merasa nyaman saat berkomunikasi dan bercerita mengenai kehidupan masing-masing. Yang perlu dilakukan selanjutnya ialah merencanakan pertemuan dan menjadikan hubungan tersebut lebih dari sekadar imajinasi belaka; maksudnya, yakali mau menjalin hubungan tanpa tahu wujud asli pasangan kayak gimana? Semu.

Tak bisa dipungkiri, meski digital love saat ini telah menjadi sesuatu yang lumrah, masih banyak pula orang yang menganggap hubungan tersebut aneh, banyak yang bepikir “Kok bisa ya menjalin hubungan tanpa ada pertemuan nyata?”  Berkaca dari para Fangirl yang berangan-angan untuk dapat menjalin hubungan istimewa dengan idola mereka padahal nyatanya belum pernah bertemu bahkan berinteriaksi sama sekali, hal tersebut juga berlaku untuk para pejuang LDR tipe kedua; digital love fighter. Atau, bila bisa meminjam kata-kata Boy Candra dalam novel Sepasang Kekasih yang Belum Bertemu, teriakkan saja kepada mereka “Kalian terlalu sempit mengartikan cinta dan rasa!” Uhuk.

( Baca Juga : Kamu Pernah Jatuh Cinta? )

Intinya semua balik ke diri masing-masing, orang-orang mungkin akan menjudge hubunganmu, namun tidak ada salahnya untuk menjadikan itu sebagai sebuah nasehat agar lebih berhati-hati dan wawas diri.  Akan ada pula yang berkata bahwa hubunganmu tidak akan bertahan lama but it’s not their business, toh yang menjalani kan bukan orang-orang tersebut,  selama para pejuang LDR yakin dengan pilihan mereka dan hubungannya masih baik-baik saja, then go on. Banyak kok yang hubungan semacam ini yang bermuara di pelaminan, nih salah satu contohnya.


Dari foto di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa jodoh itu tidak kemana, tidak selamanya cinta dunia maya itu bohong belaka, tidak selalu pasangan dunia maya itu tidak bisa dipercaya, tapi kalau kelamaan dibiarkan hanyut dalam ketidakpastian dan telah habis kesabaran, silahkan lambaikan tangan ke kamera and say bubye baby~

Wassalam.

***
Sumber Gambar : 
- Pixabay.com
- Facebook Meme And Rage Comic Indonesia