18 Juli 2016

Tak Harus Selalu Ada



Dulu aku selalu mengeluh tentang teman yang hanya datang padaku disaat mereka butuh. Aku pun mengharapkan memiliki teman yang selalu ada dalam suka maupun duka, yang setia menemani, menjadi tempat curahan hati, penampung keluh kesah dan sandaran sekaligus penyemangat saat aku putus asa, namun untuk kali ini dengan sejuta maaf pada masa laluku, aku tak mau lagi membenarkan pendapat yang dulu selalu kujunjung tinggi. Mengapa aku mengeluhkan tentang mereka yang datang dan pergi sesuka hati sedangkan aku pun bersikap demikian? Aku tak bisa selalu ada untuk teman tapi malah mengharapkan seorang teman untuk selalu ada. Lucu.

Beberapa bulan lalu, seseorang  menjauhiku karena aku mengabaikannya disaat ia butuh teman untuk bercerita, aku mengabaikannya dengan alasan bahwa akupun memiliki masalahku sendiri, aku melakukannya berkali-kali; aku tahu aku salah. Di lain hari, giliranku yang membutuhkan teman bercerita, aku datang pada dia yang sering kuabaikan, aku bercerita tanpa henti tentang kegalauanku, tak ada balasan, ia diam tak berkutik, pernah sekali ia bergumam "Kau yang sabar ya." lalu setelah itu ia menghilang tanpa kabar. Aku menyunggingkan senyum miris, kalimat balasannya hanyalah kepedulian yang pura-pura, bukan bermaksud untuk berburuk sangka, aku pun tahu diri, aku pernah berada di posisinya sebagai orang yang pura-pura peduli. Maaf.

Setelah kejadian itu, aku mulai paham bahwa tak selamanya masalah dan suka dukaku harus kubagi dengan orang yang pernah kupercaya, terkadang Tuhan tidak menghadirkan seseorang untuk menemani dan mendengarkan ceritaku karena Tuhan ingin aku menceritakan suka dukaku hanya pada-Nya saja. 

Egois bila bila harus marah pada teman yang tak bisa selalu ada, sebab setiap orang memiliki kehidupannya sendiri, tak usah kesal dan memendam amarah pada mereka yang mengabaikan bahkan pergi menjauh begitu saja, mereka memiliki alasan yang tak perlu dijelaskan. They have their rights to choose what they want to do. Bagiku orang yang disebut teman bahkan sahabat boleh saja menjadi bagian dalam hidup tapi bukan berarti harus selalu ada dalam segala situasi; senang, susah, sedih gembira, galau, jatuh cinta, patah hati dan lain sebagainya. Berhentilah bergantung pada orang lain. Ingatlah, kita masih punya Tuhan untuk bercerita kapan saja, tak akan ada pengabaian sebab Tuhan tak hanya sekedar mendengar, Ia memberi ketenangan hati dan jalan keluar yang kan menghampiri tanpa di duga.

Mulai sekarang belajarlah untuk memahami bahwa memiliki teman dan sahabat bukan berarti memaksakan mereka untuk selalu ada. Akhir kata, tanpa mengurangi rasa hormat bagi siapa saja yang mungkin memiliki perspektif berbeda mengenai hal ini, salam damai. Cheers!

(Ternate, 17 Juli 2016)
Share:

4 komentar:

  1. Ya begitulah hidup, kadang ada hal yg cukup disimpan dalam laci kenangan mu sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, betul. Gak semua hal harus diumbar walau ke orang terdekat sekalipun~

      Hapus
  2. betul kak, suka dengan kalimat ini "bahwa memiliki teman dan sahabat bukan berarti memaksakan mereka untuk selalu ada."
    menurutku, terkadang teman/sahabat memiliki cara tersendiri menanggapi pembicaraan kita tentang suatu masalah. ada merasa ia harus ikut andil, atau ia merasa kita butuh waktu tuk sendiri.
    meskipun pada dasarnya ia juga salah penilaian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya sih disini aku niatnya pengen lebih menekankan perbedaan antara 'selalu ada' dan 'ketergantungan' karna kadang kala keberadaan kita bisa jadi bumerang buat temen, bisa aja kan mereka mau ini itu harus tergantung kita, padahal nyatanya gak semua hal harus di lakukan bersama:))

      Hapus