31 Juli 2016

Kisah Yang Usai



Semalam

Ada kisah  yang meluruh menjadi hujan

Rintiknya mengetuk bantal; melarang terpejam

Mimpiku kuyup dalam kenangan

Bersama cinta yang dalam 


***
Pagi ini terasa sekali berbeda. Tak ada lagi sapaan hangat darimu apalagi ucap rindu seperti dahulu. Hanya ada jemari kaku yang ragu meniti aksara di layar ponsel, juga sepasang mata sayu yang menerawang masa lalu; masa ketika membuka pesanmu adalah hal yang paling kutunggu, mengangkat telepon darimu adalah hal mendebarkan bagiku dan menyemangatimu sebelum kau bekerja adalah hal  yang tak ingin kulewatkan di setiap pagiku. 

Dulu, pesan singkat darimu selalu berhasil melukis bahagia di wajah, walau bukan berupa puisi manis ataupun kalimat romantis namun tetap saja bagiku kata-katamu magis. Kita adalah sepasang rasa yang memiliki sejuta mimpi untuk dibagi; kamu pernah berangan-angan bertemu denganku di sebuah bandara, lalu kita berjalan-jalan kemanapun arah kaki melangkah asalkan hanya berdua saja dan aku disini riang mengamini semua ucap anganmu dengan pipi memerah. 

Kau ingat ketika kita saling bertukar suara melalui ponsel setelah bertengkar hebat di malam itu? Aku mengangkat teleponmu dengan suara berbisik karena takut didengar ayah, apalagi bila ia mengetahui bahwa putrinya sulit tidur karena terserang rindu, aku yakin profesinya akan berubah menjadi wartawan dengan seribu pertanyaan, sedang kau disana hanya asik menertawai tingkahku yang sembunyi-sembunyi dalam hal mencinta, aku mendengus kesal. “Kamu lucu. Aku sayang kamu”  begitu katamu. Ah, kalau sudah begini hati siapa yang tidak luluh? tentu saja aku.

Setiap hari, menyemangatimu di pagi yang masih dini sudah menjadi kebiasaanku, tak mengapa bila aku harus menunggu malam untuk menuntaskan rindu, toh nantinya pesan singkat darimu juga akan datang bertamu bersama rindu yang kutunggu. Entah apapun alasanmu mengabaikanku, aku selalu berusaha memahami dengan syarat; hatimu tetap utuh untukku, itu saja.  Namun sejauh ini, sebelum kita berakhir,  kamu tak pernah lupa mengabari disaat sesibuk apapun pekerjaanmu, oleh karenanya aku tak punya alasan tuk berpaling. 

“Kamu jauh namun terasa dekat meski nyatanya raga  tak mampu saling mendekap.  Perihal jarak, aku sedang berjuang melipatnya rapat-rapat  seperti yang selalu kita angankan ketika rindu semakin nekat.  Memang, jarak selalu menjadi keluhan  yang menyesakkan dada,  hingga aku hanya bisa memelukmu dalam doa,  tapi itu tak mengapa sebab kita masih bisa saling menjaga, setidaknya menjaga hati yang terlanjur mengikat. “

Sayangnya sekuat apapun kita berjuang melawan jarak dan sebanyak apapun aku berdoa; Tuhan rupanya tak mengizinkan kita lebih lama dari ini. Malam itu, ketika aku sedang menyimpan beberapa cerita untukmu, sebuah kata terima kasih beserta maaf sudah terlebih dahulu menyerang dada hingga aku kelu. Sejenak, aku mencoba mengibur hati “Pria ini pasti sedang bercanda.”  Nyatanya aku salah, semua terjadi di luar ekspektasi. 

Aku yang begitu percaya pada semua mimpi-mimpi yang kau tawarkan hingga berusaha untuk tetap bertahan akhirnya pasrah juga. Kau pun begitu. Kau menyerah pada jarak, sedang aku menyerah pada keputusan yang mungkin saja sudah lama kau simpan di sela jemari kakumu yang meragu itu.

“Kau membuatku semakin cinta tetapi jarak membuatku terluka. Aku tak kuat.”

“Aku juga muak dengan jarak. Tetapi aku mencintaimu dan itu membuatku kuat.”

“Aku tak mau membuatmu terperangkap dalam hubungan yang sia-sia. Aku takut kita tak berujung bersama. Tak ada temu di akhir cerita. Maafkan aku.”

“Aku mengerti.”

Gemuruh di dadaku membuncah, detak yang semakin cepat menampar hatiku hingga retak, ia meluruh menjadi telaga di sudut mata, lalu meleburkan segala asa yang pernah kau cipta. Tanpa banyak mengumbar kata, aku memilih bungkam seribu bahasa dan menemani malam dengan hujan di pelupuk mata hingga terlelap entah di jam berapa. 

Hari ini, aku sedang terduduk diam di depan layar monitor dengan tanya yang masih bergemuruh riuh di kepala  "Masihkah sapaan dan kalimat penyemangat dariku berharga bagimu? Atau masih adakah rindu untukku yang menyelinap disela-sela waktumu?"  Entah seperti apa jawabanmu; aku yakin hanya ada pengabaian yang kudapati, sebab kita telah usai sejak malam tadi.


Ternate, 26 Juli 2016 | 09:12 WIT
Share:

8 komentar:

  1. Duh.... baca postingan tentang putus cinta anak LDR. Ah. Jarak sudah makan berapa banyak korban nih. Aku baper pas baca dialog yang "Kamu lucu. Aku sayanh kamu." :((((

    Sabar ya, Nov. Aku yakin kamu pasti bisa jadi jomblo sukses! Tetap semangaaaat yaaaa :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu termasuk salah satu korbannya kan, Cha? Senasib ya kita :(

      Aamiin. Thank you, Cha {}

      Hapus
  2. puk puk, hiks, mari menolak patah hati :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari menolak orang baru masuk ke hati untuk mencegah patah hati. Hehe *krik krik*

      Hapus
  3. Aksara yang dirangkai dalam kata secara jujur selalu "ngena" yah
    Yah itulah ajaibnya sebuah karya
    (= ̄ω ̄=)

    Saat ini pasti kamu lg hancur-hancurnya, silahkan lakuin apapun yang bikin perasaan lega sampe akhirnya kembali bahagia(=^ ^=)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau ngena juga di hati pembaca blog, setidaknya dengan begitu, aku bisa berbagi kesedihan :3

      Iya, Vir. Makasih:'))

      Hapus