Menjadi Pendengar

Ayah yang suka bercerita dan anak yang suka mendengarkan, atau pun sebaliknya
Ayahku adalah orang yang sangat suka bicara. Beliau bisa mengobrol dengan siapapun. Entah dengan tetangga, supir, penjual kaligrafi yang sedang berkeliling kampung mencari pembeli bahkan sampai dengan teman-teman sekolahku, sehingga tak perlu heran bila ayahku terlihat akrab dengan hampir semua teman dekat yang kupunya. Kadang yang dibicarakan tidak jelas, mulai dari kehidupan sehari-hari sampai wacana yang sedang hangat dibicarakan banyak orang. Apa pun topiknya, beliau bisa berbicara dengan asyik. Suaranya dalam. Pilihan katanya cermat. Tak lupa memberi sedikit lelucon supaya kalimatnya terdengar lucu dan dramatis. Kemampuan Ayah yangpandai berbicara ini berbanding terbalik denganku yang cenderung pendiam dan hanya banyak bicara pada orang tertentu atau pada orang yang sudah dekat denganku, kadang tergantung situasi, selain dari itu aku lebih suka mendengarkan.
Hal ini tentunya tak lepas dari pengaruh kedua orang tuaku, terutama Ayah. Sejak kecil Ayah kerap menceritakan tentang banyak hal padaku. Kadang, aku juga suka menyimak pembicaraan antara Ayah dan temannya, entah itu saat kami berkunjung ke rumah teman beliau atau pun saat rumah kami kedatangan tamannya. Padaku, Ayah lebih sering bercerita tentang masa muda dan masa-masa sekolahnya, ayah juga pernah dengan bangga bercerita bagaimana ia bisa menjadi siswa terkenal di sekolah, sampai-sampai ada beberapa cerita yang sudah beberapa kali kudengar.
“Inong tau, Papa dulu waktu SMA nih punya teman dekat namanya……..” “Papa dulu waktu SMA pernah disuruh maju ke depan kelas pake bahasa inggris sama Pak guru. Bahasa inggrisnya, come forward……. ” Dan cerita lainnya yang masih kuingat sampai sekarang, di balik cerita-cerita tersebut, aku tahu bahwa Ayah sedang menasehatiku dengan caranya sendiri, aku tahu bahwa Ayah sedang menyelipkan nasehat dan pelajaran yang bisa kuambil dari ceritanya, atau jika tidak, Ayah sendiri yang akan memberitahukan padaku; “Inong di kelas jangan tako kalo ada guru yang suruh Inong maju bicara di muka kelas. Papa dulu yang tara bisa bahasa inggris saja tara tako, masa Inong tako,” begitu katanya beberapa waktu silam dengan logat Ternate yang kental. Mendengar cerita Ayah sambil melihat raut wajahnya yang ekspresif, aku yakin, siapa pun yang juga mendengar cerita beliau pasti akan ikut tertawa dan larut dalam ceritanya. Suatu hari ibu pernah berkata padaku “Seandainya Ayahmu pernah berkuliah, dia mungkin akan jago di bidang Publik Speaking” Kata ibu sambil tertawa kecil. Aku ikut tersenyum mendengarnya sambil berhemmm-hemm ria ala Nissa Sabyan.
Ayahku memang bukanlah seorang yang pernah mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan, ayahku hanya lulusan SMA yang pernah bekerja sebagai supir angkot dan kini berprofesi sebagai seorang pekerja serabutan, beberapa bulan lalu beliau bekerja di sebuah kantor koperasi swasta yang ada di kampung, sayangnya kantor tersebut untuk sementara berhenti beroperasi karena suatu alasan. Setiap kali membahas tentang kuliah, ayah selalu menasehatiku perihal pendidikan, lagi-lagi beliau melanjutkan cerita yang membuatku tertegun dan penasaran sehingga aku akan duduk mendengarkan ceritanya sampai selesai, terkadang ketika aku bertanya dan menanggapi, Ayah akan semakin bersemangat bercerita. Tahun demi tahun berlalu, entah sejak kapan, aku jadi terbiasa untuk mendengarkan dan membiasakan diri mengobrol dengan banyak orang. Tak hanya Ayah. Tapi juga teman, kerabat, ibu-ibu di angkot, kucing, sampai orang asing yang duduk bersebelahan saat mengantri di bank, di angkot, dll. Kadang aku sendiri heran, tiba-tiba mereka bercerita tanpa aku ajak bicara, mungkin karena bosan dengan keadaan sekitar. Mengingat Ayah, membuatku tak segan untuk mendengarkan, kadang aku memberanikan diri untuk ikut bercerita dan menanggapi. Entah bagaimana, obrolan tersebut jadi mendalam. Terkadang kami bertukar kontak atau sekadar saling menambahkan teman di media sosial seperti Facebook. Setelah beranjak dewasa, aku sadar bahwa kejadian-kejadian itu bukanlah suatu kebetulan namun tercipta karena aku senang melakukannya. Tumbuh ditemani suara dan cerita-cerita dari Ayah membuatku belajar dua hal penting, yaitu belajar menjadi pendengar dan belajar untuk ‘bisa’ berbicara atau sekadar menanggapi cerita orang, sebisaku. Kadang di saat bingung atau dalam keadaan canggung di tengah-tengah orang-orang yang tak kukenali, aku akan mengingat Ayah, bagaimana cara beliau membuka obrolan dan cara beliau mencairkan suasana awkward adalah kemampuan yang ingin kumiliki, meski kenyataannya aku tetaplah seorang yang tidak banyak bicara, dengan orang baru, entahlah.
Hehe.

14 komentar:

  1. Wii.. sudah mulai nurun itu kemampuan ayahnya 😁

    Salam ODOP

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, sepertinya sih, Kak.

      Salam kenal dan salam ODOP:))

      Hapus
  2. ayahku dulu juga cerewet. saking cerewetnya, tidak jarang aku kasihan sama lawan bicara ayah hehe.jadi kangen ayah di dunia lain sana.

    ~salam odop~

    BalasHapus
  3. Author pasti lagi kangen sama ayahnya ya?

    BalasHapus
  4. Tako itu artinya takut, Nov?

    Kalau saya, sih, kurang dekat dengan Ayah. Saya suka bercerita atau curhat begini pun karena ibu saya. Beliau ketika sedang duduk di dekat saya, tiba-tiba suka cerita tentang apa saja. Seingat saya, sih, itu sudah terjadi sejak saya kecil. Beliau menyuguhkan saya cerita-cerita seram atau legenda di kampung kelahirannya. Lalu, untuk saat ini palingan cerita sehari-hari. Penting atau tidak penting, beliau suka curhat gitu aja. Saya sendiri hampir enggak pernah cerita. Lebih senang mendengarkan, dan sedikit merespons. Komunikasi kami cuma sesimpel itu. Hahaha.

    Namun yang masih saya bingung, dari mana kesukaan saya menulis? Atau, intinya saya suka bercerita seperti Ibu, tapi nyamannnya dalam bentuk tulisan, bukan lisan. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Yog. Itu artinya takut, hehe.

      Dengerin orang tua cerita soal apa aja itu cukup menyenangkan ya, Yog. Muehehe

      Kurang lebih sama, Yog. Sama-sama suka bercerita tapi dalam bentuk tulisan:")

      Hapus
  5. Saya juga termasuk orang yang nggak begitu suka, nggak pinter lebih tepatnya, untuk berbicara di depan orang banyak. Nggak tau karena faktor apa. Sampai sekarang pun, kadang suka gelagepan kalau disuruh public speaking.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah. Sama. Aku kalau berbicara di depan orang banyak juga kadang masih suka grogi. Huhu

      Hapus
  6. Nice, suka. Salam kenal mba! 😊😊😊

    BalasHapus