Kisah Yang Usai



Semalam

Ada kisah  yang meluruh menjadi hujan

Rintiknya mengetuk bantal; melarang terpejam

Mimpiku kuyup dalam kenangan

Bersama cinta yang dalam 


***
Pagi ini terasa sekali berbeda. Tak ada lagi sapaan hangat darimu apalagi ucap rindu seperti dahulu. Hanya ada jemari kaku yang ragu meniti aksara di layar ponsel, juga sepasang mata sayu yang menerawang masa lalu; masa ketika membuka pesanmu adalah hal yang paling kutunggu, mengangkat telepon darimu adalah hal mendebarkan bagiku dan menyemangatimu sebelum kau bekerja adalah hal  yang tak ingin kulewatkan di setiap pagiku. 

Dulu, pesan singkat darimu selalu berhasil melukis bahagia di wajah, walau bukan berupa puisi manis ataupun kalimat romantis namun tetap saja bagiku kata-katamu magis. Kita adalah sepasang rasa yang memiliki sejuta mimpi untuk dibagi; kamu pernah berangan-angan bertemu denganku di sebuah bandara, lalu kita berjalan-jalan kemanapun arah kaki melangkah asalkan hanya berdua saja dan aku disini riang mengamini semua ucap anganmu dengan pipi memerah. 

Kau ingat ketika kita saling bertukar suara melalui ponsel setelah bertengkar hebat di malam itu? Aku mengangkat teleponmu dengan suara berbisik karena takut didengar ayah, apalagi bila ia mengetahui bahwa putrinya sulit tidur karena terserang rindu, aku yakin profesinya akan berubah menjadi wartawan dengan seribu pertanyaan, sedang kau disana hanya asik menertawai tingkahku yang sembunyi-sembunyi dalam hal mencinta, aku mendengus kesal. “Kamu lucu. Aku sayang kamu”  begitu katamu. Ah, kalau sudah begini hati siapa yang tidak luluh? tentu saja aku.

Setiap hari, menyemangatimu di pagi yang masih dini sudah menjadi kebiasaanku, tak mengapa bila aku harus menunggu malam untuk menuntaskan rindu, toh nantinya pesan singkat darimu juga akan datang bertamu bersama rindu yang kutunggu. Entah apapun alasanmu mengabaikanku, aku selalu berusaha memahami dengan syarat; hatimu tetap utuh untukku, itu saja.  Namun sejauh ini, sebelum kita berakhir,  kamu tak pernah lupa mengabari disaat sesibuk apapun pekerjaanmu, oleh karenanya aku tak punya alasan tuk berpaling. 

“Kamu jauh namun terasa dekat meski nyatanya raga  tak mampu saling mendekap.  Perihal jarak, aku sedang berjuang melipatnya rapat-rapat  seperti yang selalu kita angankan ketika rindu semakin nekat.  Memang, jarak selalu menjadi keluhan  yang menyesakkan dada,  hingga aku hanya bisa memelukmu dalam doa,  tapi itu tak mengapa sebab kita masih bisa saling menjaga, setidaknya menjaga hati yang terlanjur mengikat. “

Sayangnya sekuat apapun kita berjuang melawan jarak dan sebanyak apapun aku berdoa; Tuhan rupanya tak mengizinkan kita lebih lama dari ini. Malam itu, ketika aku sedang menyimpan beberapa cerita untukmu, sebuah kata terima kasih beserta maaf sudah terlebih dahulu menyerang dada hingga aku kelu. Sejenak, aku mencoba mengibur hati “Pria ini pasti sedang bercanda.”  Nyatanya aku salah, semua terjadi di luar ekspektasi. 

Aku yang begitu percaya pada semua mimpi-mimpi yang kau tawarkan hingga berusaha untuk tetap bertahan akhirnya pasrah juga. Kau pun begitu. Kau menyerah pada jarak, sedang aku menyerah pada keputusan yang mungkin saja sudah lama kau simpan di sela jemari kakumu yang meragu itu.

“Kau membuatku semakin cinta tetapi jarak membuatku terluka. Aku tak kuat.”

“Aku juga muak dengan jarak. Tetapi aku mencintaimu dan itu membuatku kuat.”

“Aku tak mau membuatmu terperangkap dalam hubungan yang sia-sia. Aku takut kita tak berujung bersama. Tak ada temu di akhir cerita. Maafkan aku.”

“Aku mengerti.”

Gemuruh di dadaku membuncah, detak yang semakin cepat menampar hatiku hingga retak, ia meluruh menjadi telaga di sudut mata, lalu meleburkan segala asa yang pernah kau cipta. Tanpa banyak mengumbar kata, aku memilih bungkam seribu bahasa dan menemani malam dengan hujan di pelupuk mata hingga terlelap entah di jam berapa. 

Hari ini, aku sedang terduduk diam di depan layar monitor dengan tanya yang masih bergemuruh riuh di kepala  "Masihkah sapaan dan kalimat penyemangat dariku berharga bagimu? Atau masih adakah rindu untukku yang menyelinap disela-sela waktumu?"  Entah seperti apa jawabanmu; aku yakin hanya ada pengabaian yang kudapati, sebab kita telah usai sejak malam tadi.


Ternate, 26 Juli 2016 | 09:12 WIT

Noviyana Shiali
Korban patah hati akibat LDR
sedang berproses menjadi jomblo sukses (move on).
Mangats!

22 comments:

  1. Aku terbungkam membaca setiap aksara darimu. Mengalir begitu indah. Hingga hatiku terus menebak, ada apa gerangan ?? Aku tak sengaja tersenyum kecil saat kau sembunyi sembunyi dari ayah saat bertelfon ria dimalam hari..

    Hingga di akhir kau menulis berproses menjadi jomblo. Yang sabar ya nov..
    Menjadi jomblo tidaklah menakutkan.. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahah, iya. Aku tau kalau jadi jomblo itu gak menakutkan, kan sempet jadi jomblo sebelum pacaran sekarang jadi jomblo lagi deh. Hahah. Thank you, Rum:))

      Delete
  2. Air mata abang kluar nih jadi mutiara
    Saking bempernya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mutiaranya ditelen lagi bang biar bampernya hilang:))

      Delete
  3. ya Allah Nov aku terdiam bungkam sudah baca setiap kalimate. yah walaupun di akhir bertuliskan aku yakin hanya ada pengabaian yang kudapati, sebab kita telah usai sejak malam tadi, gakpapa karna itu bukanlah hal horor.
    jadi kebawa perasaan bacanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan terdiam bungkam, Mas. Enakan bersuara ria. *krik krik*

      Delete
  4. yyhaaa baper sudaah.
    keren sih tulisannya salut.

    ReplyDelete
  5. Duh.... baca postingan tentang putus cinta anak LDR. Ah. Jarak sudah makan berapa banyak korban nih. Aku baper pas baca dialog yang "Kamu lucu. Aku sayanh kamu." :((((

    Sabar ya, Nov. Aku yakin kamu pasti bisa jadi jomblo sukses! Tetap semangaaaat yaaaa :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu termasuk salah satu korbannya kan, Cha? Senasib ya kita :(

      Aamiin. Thank you, Cha {}

      Delete
  6. Pemilihan diksinya benar-benar pas banget, aku suka! kamu seolah-olah meracik kata demi kata itu saling berkaitan dan menjadi sebuah rangkaian kalimat yang syahdu banget.

    Aku yakin ini pasti ungkapan hati yang terdalam sekali. lagi-lagi jarak adalah perusak suatu hubungan ya. Yang sabar saja yaa, jodoh nggak akan kemana kok. move on aja sambil memperbaiki diri. NAnti kalau udah waktunya pasti ditemukan dengan yang terbaik :)

    Eh, btw, aku ngakak juga loh pas baca kamu telfonan sama dia itu sambil bisik-bisik. sumpah, itu lucu banget haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih:)

      Hahah, iya. Lagi-lagi jarak yang jadi perusak, tapi bukan jarak juga yang harus disalahkan. Eh, ntahlah.

      Aih, ternyata lucu beneran yah? wah kalo gini malah jadi keinget lagi. Hiks:'(

      Delete
  7. Yarabb, jadi baper sendiri bacanya, udah lama gak baper, baper ah kali",

    Btw, postingan yang bener" dari hati itu, dibacanya lebih ngena yah JLEB.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan ber-baper-ria. Baper itu manusiawi. Hahah

      Duh, JLEB!

      Delete
  8. puk puk, hiks, mari menolak patah hati :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mari menolak orang baru masuk ke hati untuk mencegah patah hati. Hehe *krik krik*

      Delete
  9. Aduuuh, karena jarak. DAlem banget kata-katanya. Apalagi yang kebiasaan setiap pagi itu, pasti yang paling sering dilakukan dua orang yang terpisah jarak.

    ReplyDelete
  10. Aksara yang dirangkai dalam kata secara jujur selalu "ngena" yah
    Yah itulah ajaibnya sebuah karya
    (= ̄ω ̄=)

    Saat ini pasti kamu lg hancur-hancurnya, silahkan lakuin apapun yang bikin perasaan lega sampe akhirnya kembali bahagia(=^ ^=)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kalau ngena juga di hati pembaca blog, setidaknya dengan begitu, aku bisa berbagi kesedihan :3

      Iya, Vir. Makasih:'))

      Delete