Kepada yang jauh disana


Selamat malam untuk kamu yang jauh disana, malam ini mataku belum bisa terpejam padahal jarum jam sudah menunjuk angka 01:18 WIT. Lagi-lagi aku teringat pada sosokmu, sosok yang membuatku selalu terjaga hingga larut malam, tentu saja itu bukan tanpa alasan; sebab perbedaan ruang dan waktu antara kita mengharuskanku mengorbankan jam tidur di malam hari, bukannya aku tidak tergoda meletakkan kepala di atas bantal yang empuk lalu memejamkan mata hingga fajar menyapa, hanya saja bagiku melewatkan satu menit bahkan detik tanpamu sungguh membuatku tersiksa, bagaimana tidak tersiksa bila rindu  selalu datang memaksa?! Memang rindu selalu menjadi perkara cinta, membuat pelakunya sedikit berlebihan dalam bertindak, seperti aku dan kamu beberapa bulan yang lalu.

Dulu aku dan kamu adalah dua insan yang pernah menjalin hubungan tanpa ada pertemuan nyata, menjadikan handphone dan internet sebagai jembatan penghubung rasa, kita gemar menghabiskan waktu berjam-jam demi untuk memenuhi kebutuhan jiwa akan cinta. Kamu mengajarkanku bahwa cinta bisa datang kapan saja dan darimana saja meskipun tak tersentuh raga, namun  sama halnya dengan cinta yang datang tiba-tiba, dia juga bisa pergi tanpa disangka lalu habis dimakan masa hingga akhirnya tak tersisa dan menjadi hampa, seperti cintamu.

Ah jujur saja, sekarang aku pusing memikirkan kata-kata untuk mendeskripsikan perasaanku, aku tidak begitu lihai merangkai kalimat indah yang membuat pembaca terkesan, jadi biarkan aku menulis apa adanya karena niatku malam ini adalah untuk meluapkan segala rasa tentangmu yang pernah memporak-porandakan semestaku.

Kepada yang sempat membuatku bahagia, masih ingat kejadian 14 Oktober lalu kan? Itu adalah hari ketika segala asa yang kubangun  runtuh dalam sekejap waktu, hari ketika hatiku kau hancurkan menjadi serpihan-serpihan kecil yang menusuk jantung hingga sekujur tubuh, membuatku merintih dan tak kuasa membendung airmata yang akhirnya malah menenggelamkan semesta yang kuciptakan bersamamu.

Jujur saja, awalnya aku tak menyangka kau mengakhiri semuanya dengan alasan sudah tak memiliki rasa, sepayah itukah kamu dalam hal mencintai? tolong ajari aku menjadi payah sepertimu, agar aku tidak lagi menjunjung tinggi perasaan cinta pada seseorang untuk kesekian kalinya.

Kepada yang pernah menjadi alasanku tersenyum, kau tahu? ini bukanlah luka pertama yang membuat hatiku meradang, kukira hatiku sudah kebal bila disakiti (lagi), namun kenyataannya luka yang kau beri justru menyisakan duka yang amat mendalam, hingga aku  mati terhadap segala rasa dan cinta yang memaksa datang.

Aku bisa apa selain menyerah pada keadaan yang tak sesuai harapan, dan berusaha menguatkan hati untuk menerima kenyataan bahwa kita sudah tak lagi sejalan?

Kau  memilih jalanmu dan pergi mencari hati yang lain, sementara aku sibuk memungut serpihan-serpihan hati satu persatu, mengumpulkannya, lalu menyatukannya lagi menjadi sempurna, hingga tak ada luka.

Setelah hatiku sembuh dan menjadi dinding yang kokoh, lalu semudah itu kau datang lagi menyapa, berlagak seperti tidak pernah terjadi apa-apa, kemudian meminta tuk kembali merajut cinta seperti dulu, untuk apa? untuk merobohkan hatiku hingga ia runtuh lagi karenamu? Tak sadarkah kau bahwa kehadiranmu yang tiba-tiba telah membenturkan kepalaku pada kenangan yang menyakitkan? Perih di hatiku belum seutuhnya pulih dan kau masih tetap tak peduli, sungguh sikap yang tak tahu diri. Maaf.

Semoga kau menyadari jika dirimu  bukan hanya menyakiti hati tapi juga mematikan saraf-saraf yang membuatku sulit menerima kehadiran sosok baru sesudah kau. Ya! Aku telah mati rasa, karenamu.

Hatiku kini telah bertumpuh pada kehampaan, menolak di isi dengan cinta yang baru, ada ketakutan besar di dalam sana, ketakutan akan hubungan yang berujung tanpa bersama, seperti hubungan kita dahulu.

Kau pergi saja, tak usah lagi kembali.

Kini biarkan aku berdamai dengan hati dan waktu agar suatu saat nanti tak jatuh pada kesalahan yang sama seperti aku yang pernah jatuh padamu, terlalu dalam, ah sudah cukup.

Selamat malam kepada yang pernah kupanggil sayang, kuharap kau bahagia seperti halnya aku yang sedang berusaha bahagia setelah kau pergi. Selamat menikmati cinta yang baru, jangan sakiti dia seperti kau menyakitiku, selamat bermimpi indah, kamu.

6 comments:

  1. Replies
    1. Hehe iya mba, aku kalo nulis sukanya curhat mulu, gampang baper sih *curcol :v
      Makasih udah berkunjung:'))

      Delete
  2. ih katakata nya keren banget kak. aku suka :) selalu buat katakata yang bagus ya kak. go move on :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, makasih adek cantik :'))
      Iya, Insha'Allah, kamu juga ya
      Udah move on kok. Muehehe

      Delete