Senin pahit yang berakhir manis

Gambar kayaknya ga match sama cerita deh.wkwk

Suara ayam berkokok menjadi pertanda fajar telah tiba di Ufuk Timur. Seperti biasa setiap harinya aku selalu bangun pagi-pagi sekali dengan model rambut baru, muka kusut dan bibir monyong khas manusia saat bangun tidur. Hal tersebut tentu saja membuat moodku menjadi kusut seperti layaknya wajahku di pagi itu, namun semuanya berubah ketika sebuah cermin yang menggantung di dinding kamar berwarna ungu muda memantulkan sinar rembulan wajah dengan model rambut yang susah di deskripsikan. "Oh astaga, model rambut kali ini terlihat keren" kataku sambil manggaruk-garuk kepala dan memperlihatkan deretan gigi seperti di iklan pepsodent. Untung saja tadi malam cermin yang ku pandangi sudah ditaburi bunga kembang 7 rupa, sehingga benda tersebut dapat menahan hasrat untuk tidak memecahkan diri didepanku.  Setelah beberapa menit mengaggumi rambut sendiri, aku langsung bernisiatif untuk tidak menyisir rambut selama 1 hari penuh, mengingat rambutku yang jarang sekali terlihat keren tanpa harus pergi ke salon. 
Bagai terhipnotis oleh bayangan gadis didepan cermin, aku malah melupakan benda yang biasanya kusentuh pertama kali di pagi hari, Handphone. Aku bahkan lupa kalau ternyata hari ini adalah hari senin, hari dimana aku harus memulai aktivitas belajar mengajar dikampus setelah 3 hari mengurung diri di rumah. 

Huh, Hancur sudah rencana yang belum berjalan sama sekali.  

"Kamf*et ternyata ini hari senin. Duh rambut, maafin aku yah kamu harus dimandiin dan disisir" Teriakku seraya memeluk bayangan seorang gadis dicermin :v

"Krik krik krik" Ah itu suara handphoneku. Langsung saja aku mengecek handphone dengan antusias, ternyata salah seorang teman memberi tahu bahwa dosen untuk mata kuliah pertama sedang berhalangan masuk. "senangnya hatiku turun panas demamku", saking senangnya, lirik lagu dari sebuah iklan di tv pun ku dendangkan, padahal pada saat itu aku sedang tidak menderita demam. Begini lah diriku. Hahaha

Beberapa menit kemudian ada sms masuk lagi dari teman dekatku 'Windi'. sms tersebut berisikan 1 bungkus nasi untuk sarapanku nanti. Ah... mana bisa mengirim nasi bungkus lewat sms? baiklah aku mau serius dulu! Sebenarnya di sms tersebut windi mengatakan bahwa dia akan kerumahku sebelum menuju ke kampus "Oh well, tumpangan gratis dipagi yang manis" gumamku setelah mengetahui bahwa windi akan kerumah teman dekatnya yang tidak lain, tidak bukan adalah Noviyana (That's my name, guys) :v

*1 Tahun Jam kemudian*

Saat tengah asik-asiknya menyisir rambut, tiba-tiba terdengar suara motor didepan rumah "Brumm brumm brumm", ternyata temanku sudah tiba. Dengan semangat yang masih membara, aku berlari keluar rumah, tak lupa juga membawa welcome flower untuk menyambut windi. "Windi, aku ada info yang cetar nih", teriakku dengan senyum yang mengembang, "Iya, dosen matkul pertama ga masuk kan?" tanyanya dengan wajah penuh keyakinan. Aku mengangangguk cepat lalu mengerucutkan bibirku seperti kerucut yang kecut. Ah rupanya windi sudah tau  sebelum aku memberitahu nya. Yasudahlah -_-

"Eh udah, jangan banyak melamun, cepeten ganti baju sana, ntar telat" perintahnya 
"Iya ah, tunggu ya, aku mau ganti baju dulu, terus kita capcus deh" balasku
"Iya cepetan, ntar dosennya dateng duluan" Perintahnya lagi -_-

Sudah menjadi kebiasaannya memerintahku seperti ini. Eh tunggu dulu, sepertinya ada yang aneh, aku merasakan ada sesuatu yang mangganjal sejak tadi, tapi apa ya? huh entahlah, lupakan saja, lebih baik aku ganti baju dan cepat-cepat pergi ke kampus sebelum temanku yang manis semanis madu itu menjadi santapan lebah. Eh.

*15 menit berlalu*

Aku berjalan menghampiri windi yang sedari tadi menungguku "Aku siap, aku siap ! yok capcus".
Windi terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu "Eh tunggu, kamu ga lupa bawa makalah kan?" aku menatapnya selama beberapa detik seraya mengingat-ngingat makalah apa yang dimaksud, dan yah ternyata makalah yang dimaksud adalah tugas makalah dari mata kuliah jam pertama. Aku memang lupa menaruh makalah tersebut kedalam tas. Tanpa ada aba-aba, akupun balik lagi menuju ke kamar dan mengambil makalah yang dimaksud.

Setelah mengambil makalah yang sempat terlupakan, kami langsung bergegas menuju kampus dengan mengendarai motor. Dalam perjalanan, Windi menanyakan tentang isi dari makalah, aku mengatakan bahwa makalah tersebut belum sepenuhnya selesai, karena aku belum sempat membuat kesimpulan pada bab penutup dan butuh bantuan dari teman kelompok lainnya untuk menyimpulkan isi dari tugas makalah yang ada dalam tasku. Windi hanya mengangguk.

Sesampainya di Kampus, suasana sekitar terasa begitu sepi. Teman-teman yang biasanya duduk di bangku depan gedung fakultas sebelum perkuliahan dimulai tidak menunjukan wujudnya, Ah sepertinya mereka belum datang tapi jarang sekali mereka seperti ini. Mungkin mereka lelah.

"Pea, tadi bukannya ada yang bilang kalo pak ga masuk karena berhalangan ya?" Tanya windi, dengan raut wajah yang agak sedikit terkejut.
"Astaga, bener ! Pantesan belum ada yang datang. Ah, terus kita ngapain disini sekarang?" ucapku balik bertanya.
"Nguburin diri ! Gau tau, kan tadi kita udah tau kalo pak gak bakalan masuk, nah kenapa kita malah datang ke kampus sepagi ini? kayak orang amnesia aja, lupa nya cepet banget-_- " Ucap windi.
"Set dah, tau deh ! Tadi kamu malah pake nanya-nanya soal makalah, padahal dosennya ga masuk" Balasku
"Yasudah medingan kita balik aja yuk ke rumah,eh  ke rumahku tapi, mau?" tawarnya
"Yailah, Ke rumah manapun tak masalah hahah" ucapku menyetujui.

***

Sesampainya dirumah kami langsung  pergi kedapur dengan tujuan  mencari mangsa makanan. Berhubung karena saat itu tidak ada makanan, kami memutuskan pergi kewarung untuk membeli mie instan. Perjalanan menuju warung tidak memakan waktu lama   -Singkat cerita- 
Setelah membayar 4 bungkus mie instan kami langsung kembali ke rumah, namun sebelum menginjakan kaki dirumah. Windi seketika menghentikan langkah kakinya ketika kami berada di sebuah lorong kecil yang biasa dilewati orang-orang komplek.

"Kenapa?" tanya ku heran
"Liat deh, ini udah kadaluarsa" Jawabnya sambil menunjukan tanggal kadaluarsa pada bungkus mie instan
"Astaga, balik lagi yuk! Harus diganti nih, terus sekalian bilang ke penjualnya kalo jualan jangan yang kadaluarsa, kalo pembelinya keracunan siapa yang harus tanggung jawab?" Kataku
"Heh, biasa aja kali, ga usah segitu nya, ayo balik ke warung tadi"  windi berjalan mendahuluiku.

-Warung-

"Pak, mie nya udah kaluarsa" Kata windi, menyerahkan kantong plastik hitam yang didalamnya berisi 4 bungkus mie kepada pemilik warung, aku hanya memperhatikan raut si penjual tanpa mengeluarkan sepatah katapun, raut wajahnya menunjukan rasa bersalah.  Bagus.

"Oh, maaf. Nanti saya ganti mie nya ya"



-Bersambung-

Nanti dilanjutinnya lain waktu aja ya, kalo ada kesempatan. Lagi capek nih tangan hehe.
see you



0 Komentar: