Mengantar rindu pada gadis kecil


Langit yang kupandangi saat ini nampak tak seindah biasanya, warna biru muda yang kusukai bersembunyi dibalik awan mendung yang menggelap merata tanpa menyisahkan sedikit celah bagi cahaya untuk menembusnya. Kudengar suara gemuruh menggelegar dari atas sana, menjadi musik penghantar bagi titik-titik air yang turun dengan derasnya menuju bumi yang kupijaki. Kilatan cahaya seakan menjadi lampu disko bagi pohon-pohon yang sejak tadi menari dan bergerak berayun-ayun menikmati hembusan angin yang menggelitik, membuat bumi terkikik geli.


Dibalik sebuah kaca jendela, terlihat seorang gadis remaja berambut ikal dan wajah berbentuk oval sedang menatap langit dengan lirih, sepasang bola mata itu mengisyaratkan kerinduan, membuat siapapun yang melihat dapat menebak isi kepalanya dan mungkin bisa merasakan apa yang ia rasakan. Gadis itu adalah aku.

Aku memang sedang merindu, namun rinduku bukanlah rindu seorang wanita  akan prianya, bukan juga rindu pada kenangan bersama kekasihnya. Perlu kuperjelas padamu, mungkin juga pada langit, pada hujan, dan bumi yang ingin tahu, bahwa aku tak pernah mengukir kenangan tentang kekasih dimasa laluku, Tuhan tahu itu.

“Lalu apa yang kau rindukan?” Lihatlah! Aku bahkan berharap langit akan bertanya seperti itu dan bersedia mendengar isi hati yang siap melompat keluar berhamburan dari bibirku. Ah baiklah, anggap saja aku benar-benar sedang bercerita pada langit tentang semua kenanganku  yang  pernah disaksikan langsung olehnya bersama hujan dimasa lalu. 

Hujan seakan menjadi kunci untuk membuka pintu kenangan itu kembali, hujan berhasil membuatku menyentuh kenangan itu lagi, membuatku mengingat dan merindukan aku yang dulu. Aku yang pernah menjadi seorang gadis kecil polos yang selalu berlari keluar rumah ketika melihat langit mendung lalu tersenyum dan mengangkat tangan keatas tanpa beban seperti memberi memberi isyarat pada langit bahwa aku tak sabar menunggu hujan. Aku  tak malu-malu untuk menari bersama pepohonan yang sedang besorak gembira menyambut hujan, aku bahkan tak takut berbaring dirumput yang basah untuk menikmati hujan dikala itu.  

Aku saat ini memang bisa menikmati hujan layaknya gadis kecil itu, namun rasanya akan sangat berbeda jauh. Gadis kecil itu menikmati hujan tanpa beban sedangkan aku? aku mungkin akan mendapat bahkan menjadi beban jika berlama-lama dibawah hujan, berbeda jauh bukan? hahah.


Kadang aku ingin berubah menjadi gadis kecil itu lagi dan kembali ke masa lalu,  namun aku sadar bahwa aku ternyata hidup didunia nyata, bukan hidup dalam cerita fiksi bergenre fantasi, dimana tokoh dalam novel bisa melakukan apapun yang pada kenyataannya tak mungkin dilakukan.oh iya, aku lupa! Bahkan cerita dalam novel sekalipun sudah ada yang merancang, semua jalan cerita sudah diatur oleh penulisnya, dan bukankah itu artinya apa yang terjadi padaku dimasa lalu maupun saat ini adalah apa sudah ditulis oleh Tuhan? Oh baiklah, aku mengerti.

Hujan kali ini berhasil membuatku menghayalkan sesuatu yang tidak mungkin, seharusnya aku hanya mengenang dan membiarkan yang sudah berlalu menjadi kenangan, membiarkan gadis kecil itu hidup dimasanya. Hai Hujan, langit, atau siapapun, tolong doakan agar gadis kecil yang sudah menjelma menjadi remaja ini bisa mengukir kenangan indah lainnya untuk dikenang dimasa tua bersama yang terkasih, Hihihih

Tolong sampaikan doaku pada-Nya. Aku tahu tanpa menitip doa-pun, Tuhan sudah dapat mendengarnya, namun tak ada salahnya menitip sedikit kan? Hahah, Terimakasih ^_^

Jangan tanya ini gambar apa, bisa liat sendiri kan? wkwk

Kalau tulisan ini agak lebay dan membuat kamu ingin muntah, maka silahkan lakukan !! Aku masih belajar menulis, masih seorang penulis amatir, jadi harap di maklumi :D

0 Komentar: